Round-Up

Terbongkarnya Sindikat Mafia Tanah Didalangi Napi dari Balik Penjara

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 05 Des 2020 08:23 WIB
Polda Metro Jaya bongkar mafia tanah pemalsu sertifikat Rp 6 M.
Polda Metro Jaya membongkar mafia tanah pemalsu sertifikat Rp 6 M. (Karin/detikcom)
Jakarta -

Polda Metro Jaya membongkar sindikat mafia tanah yang memalsukan sertifikat rumah di Pulogadung, Jakarta Timur, senilai Rp 6 miliar. Mafia tanah ini diotaki oleh seorang narapidana (napi) yang masih menjalani hukuman di LP Cipinang, Jakarta Timur.

Ada 8 tersangka yang ditangkap polisi dalam kasus ini, yakni AYS, PA, MSM, SHS, RAG, S, AA, dan NS. Sementara itu, dua tersangka berstatus DPO, yakni HG dan HAG.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan sindikat ini diotaki oleh seorang napi yang masih mendekam di LP Cipinang karena perkara tindak pidana lain.

"Yang pertama inisialnya adalah AYS, otak dari sindikat ini. Saya katakan bahwa masih menjalani masa hukuman di Lapas Cipinang, Jakarta Timur," ujar Kombes Yusri Yunus kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Senayan, Jakarta Selatan. Kamis (3/12/2020).

Kasus ini melibatkan notaris & PPAT, yakni SHS dan RAG. Mereka juga ditangkap karena membuat akta jual-beli fiktif.

"Kemudian ada inisialnya S, dia mengaku notaris, kemudian AA, juga mengaku notaris," lanjutnya.

Sedangkan PA berperan mengenalkan korban kepada tersangka MSM. Sementara itu, tersangka MSM berperan membujuk korban bersama tersangka AYS.

"Satu tersangka lainnya, PA, ini masih menjalani proses penyembuhan karena mengalami stroke," tuturnya.

Kasus ini bermula ketika pada 2009. Tersangka PA meminjam sertifikat rumah korban Christina dengan luas tanah 4.27 meter persegi di Pulogadung, Jakarta Timur. PA meminjam sertifikat hak milik (SHM) atas rumah tersebut dengan alasan untuk diagunkan ke bank sebagai modal usaha.

"Tersangka membujuk korban untuk menyerahkan sertifikat milik si korban dan dijanjikan rumahnya akan direnovasi," katanya.

Namun hal itu tidak terlaksana lantaran tersangka mengalami macet kredit senilai Rp 2 miliar. Setelah itu, tersangka MSM dan AYS menawarkan korban penebusan sertifikat itu di bank dengan dijanjikan Rp 100 juta, dengan syarat sertifikat itu dapat dipinjam kembali selama 3 (tiga) bulan.

Korban menyetujui penawaran tersebut. Hingga akhirnya, pada 2016, korban didatangi oleh pihak bank yang akan menyita rumah tersebut. Rumah tersebut diagunkan ke bank senilai Rp 6 miliar.

Kasus ini kemudian dilaporkan ke polisi pada 2017. Hingga akhirnya, para tersangka ditangkap pada 2020. Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 263 KUHP dan atau Pasal 264 KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 ke (1) KUHP dan atau Pasal 3, 4, dan 5 UU RI No 08 Tahun 2010 tentang TPPU.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.