KPK Panggil Stafsus Edhy Prabowo Jadi Saksi Kasus Suap Ekspor Benur

Wilda Nufus - detikNews
Jumat, 04 Des 2020 11:18 WIB
Logo, ilustrasi, gedung Komisi Pembarantasan Korupsi (KPK)
Foto: Ari Saputra/detikcom
Jakarta -

Penyidik KPK memanggil Staf Khusus Menteri KKP Nonaktif Edhy Prabowo, Putri Catur, dalam kasus dugaan suap ekspor benur. Putri rencananya dipanggil sebagai saksi untuk tersangka Edhy Prabowo.

"Putri Catur, Staf Khusus Menteri KKP," kata Plt Jubir KPK Ali Fikri kepada wartawan, Jumat (4/12/2020).

Selain itu, KPK turut menjadwalkan pemeriksaan terhadap saksi lainnya, yakni PNS Subkoordinator Ikan Tawar Air Direktorat Produksi dan Usaha Budi Daya Dian Sukmawan.

Saksi lainnya yang juga dipanggil adalah seorang PNS Andika Anjaresta dan wiraswasta Dalendra Kardina. Kemudian ada seorang mahasiswa yang turut dipanggil ialah Esti Marina.

Dalam kasus ini, KPK sudah menetapkan 7 tersangka, yaitu:

Sebagai penerima:
1. Edhy Prabowo (EP) sebagai Menteri KKP;
2. Safri (SAF) sebagai Stafsus Menteri KKP;
3. Andreau Pribadi Misanta (APM) sebagai Stafsus Menteri KKP;
4. Siswadi (SWD) sebagai Pengurus PT Aero Citra Kargo (PT ACK);
5. Ainul Faqih (AF) sebagai Staf istri Menteri KKP; dan
6. Amiril Mukminin (AM)

Sebagai pemberi:
7. Suharjito (SJT) sebagai Direktur PT DPP.

Kasus bermula setelah Edhy Prabowo menerbitkan Surat Keputusan Nomor 53/KEP MEN-KP/2020 tentang Tim Uji Tuntas (Due Diligence) Perizinan Usaha Perikanan Budi Daya Lobster. Andreau Pribadi Misata (APM) selaku staf khusus menteri ditunjuk sebagai ketua pelaksana. Sedangkan Safri (SAF), yang juga staf khusus menteri, menjabat wakil ketua pelaksana.

"Salah satu tugas dari tim ini adalah memeriksa kelengkapan administrasi dokumen yang diajukan oleh calon eksportir benur," ujar Nawawi.

Baca selengkapnya di halaman berikutnya

Selanjutnya
Halaman
1 2