Hakim Cecar Teman Pinangki Singgung Hukuman Jika Beri Kesaksian Palsu

Zunita Putri - detikNews
Rabu, 02 Des 2020 23:10 WIB
Pinangki Sirna Malasari kembali mengikuti sidang lanjutan kasus suap di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (30/11/2020). Sidang menghadirkan 6 orang saksi.
Ilustrasi sidang Pinangki. (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta mencecar saksi yang merupakan teman Pinangki Sirna Malasari dan Djoko Tjandra bernama Rahmat. Hakim mencecar Rahmat dan menyinggung hukuman bagi seseorang yang memberikan keterangan palsu saat sidang tindak pidana korupsi.

Awalnya hakim mencecar terkait peran dan tujuan Rahmat mengenalkan Pinangki ke Djoko Tjandra. Rahmat mengaku dia tidak memiliki tujuan apa pun dan hanya kebetulan sedang ada acara di Malaysia sehingga mengantarkan Pinangki dua kali ke Malaysia.

Kemudian, hakim mencecar Rahmat. Hakim lantas menyinggung soal pengakuan Rahmat terkait diarahkan oleh Pinangki saat diperiksa di pengawasan Kejagung.

"Perlu Saudara catat, setiap kali keterangan Saudara kami juga catat, jadi kami juga akan tahu apa yang beyond dari pernyataan atau keterangan Saudara," kata hakim anggota Agus Salim.

"Kalau Saudara tidak ada yang Saudara tutup-tutupi, kenapa Saudara mau diperintahkan dibodoh-bodohin oleh Pinangki untuk menjawab apa kemauan Pinangki? Pada saat diperiksa oleh tim dari pengawasan?" lanjut hakim bertanya.

Untuk diketahui, di awal persidangan, Rahmat mengaku pernah diarahkan Pinangki saat diperiksa di pengawas Kejagung. Rahmat mengaku keterangannya diarahkan oleh Pinangki dengan iming-iming Pinangki sudah berkoordinasi dengan atasannya.

Rahmat mengaku dia hanya menuruti Pinangki. Rahmat mengaku percaya kepada Pinangki.

"Karena pada dasarnya, Yang Mulia, Bu Pinangki bilang 'Rahmat ini sudah dikondisikan, kamu jawab ini', dan saya percaya sama dia," kata Rahmat.

Hakim menilai alasan Rahmat tidak masuk akal. Hakim Agus lantas memperingati Rahmat dengan hukuman bagi seseorang yang memberi keterangan palsu.

"Iya, Saudara mau dibodoh-bodohi berarti. Padahal Saudara tahu kan efek atau konsekuensi Saudara melakukan keterangan palsu. Saudara sudah menjadi orang dewasa, punya tanggung jawab hukumnya, bahwa seseorang yang melakukan itu juga sanksinya, tapi Saudara sebagai subjek hukum yang sudah bertanggung jawab secara hukum itu Saudara yang bertanggung jawab," kata hakim Agus.

Dalam sidang ini, yang duduk sebagai terdakwa adalah Andi Irfan Jaya. Andi Irfan didakwa didakwa menyerahkan uang USD 500 ribu dari Djoko Tjandra ke Pinangki. Selain itu, jaksa mendakwa Andi Irfan melakukan pemufakatan jahat. Pemufakatan jahat itu dilakukan bersama Pinangki dan Djoko Tjandra.

Atas dasar itu, Andi Irfan Jaya didakwa Pasal 5 ayat (2) jo Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 56 ke-1 KUHP.

Terkait pemufakatan jahat, Andi Irfan didakwa melanggar Pasal 15 jo Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

(zap/idn)