Pakai Format Audio Description, Mahasiswa UMN buat Film untuk Tunanetra

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Rabu, 02 Des 2020 16:07 WIB
Ilustrasi pembuatan film
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Di masa pandemi COVID-19, banyak pembuat film atau content creator merilis karya audio visual berupa film, webseries, atau vlog sebagai alternatif hiburan di rumah saja. Berbeda dengan dosen muda dan para mahasiswa film dari Universitas Multimedia Nusantara (UMN) yang merilis sebuah film pendek dalam versi audio description (AD).

Film pendek ini berjudul 'Jemari yang Menari di Atas Luka-Luka (Jemari)'. Dengan format audio description, nantinya akan ada tambahan teks narasi yang mendeskripsikan visual dari film. Hal ini tentunya akan sangat membantu rekan tunanetra dan low vision untuk dapat menikmati sebuah film.

Tidak hanya kawan tunanetra atau low vision, melalui AD ini penonton awas pun dapat menikmati film dengan cara yang tak biasa.

"Kami sengaja tidak menampilkan visualnya sama sekali, sehingga kawan-kawan awas bisa merasakan sensasi "menonton" film hanya mengandalkan pendengaran mereka. Apalagi kalau dengerinnya pakai earphone, sambil matanya bener-bener ditutup rapat pakai kain atau sejenisnya. Bakal beda sensasinya," ungkap Perdana Kartawiyudha, penulis sekaligus publicity and distribution manager film 'Jemari' dalam keterangan tertulis, Rabu (2/12/2020).

Publik dapat mengakses AD dari film yang sedang berlaga di ajang Festival Film Indonesia 2020 ketegori film cerita pendek terbaik ini mulai 3 Desember mendatang, bertepatan dengan peringatan Hari Disabilitas Internasional.

Selain AD, pada waktu bersamaan akan dirilis pula sebuah diskusi podcast dengan judul 'Membuat Film untuk Didengar (Bukan Hanya Ditonton)' lewat situs bekantanpictures.com/jemari.

UMNUMN Foto: dok. UMN

Podcast ini berisi diskusi bersama sejumlah tunanetra di Jakarta tentang opini mereka menikmati film dalam format audio description, yang dihadiri pula oleh tim pembuat film 'Jemari' serta tim pembuat AD dari Minikino dan Teater Kalangan di Bali.

"Kami berharap melalui podcast ini, para pembuat film pun tergerak untuk membuat AD dari film mereka agar dapat membuka jejaring ke kelompok penonton baru, seperti kelompok tunanetra dan low vision," ungkap produser film 'Jemari' dari rumah produksi Bekantan Pictures, Jose Prabowo.

Perilisan versi audio description dari film pendek pemenang ajang Bali International Short Film Festival 2020 ini bukanlah tanpa maksud. Sejak awal, film 'Jemari' memang dibuat sebagai bentuk advokasi atas hak-hak kelompok minoritas yang sering kali terenggut oleh masyarakat.

"Perilisan film versi AD ini merupakan kelanjutan komitmen kami menyuarakan hak dari kelompok minoritas. Kali ini fokus kami pada penyandang disabilitas. Kami merasa mereka pun berhak mendapatkan kesempatan menikmati film dengan cara yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka," kata Putri Sarah Amelia selaku sutradara film 'Jemari'.

Sebagai infomarsi, film 'Jemari' sendiri bercerita tentang perias jenazah yang hadir di tengah duka seorang ibu yang baru saja kehilangan anaknya yang 'berbeda' dalam sebuah kecelakaan. Film pendek tanpa dialog ini merupakan satu-satunya perwakilan Indonesia di ajang festival film pendek tertua dan terbesar di Jepang, ShortShort Film Festival and Asia 2020, sebuah festival film berlabel Oscar Qualifying.

Untuk tahu info terkait penayangan film Jemari dapat dilihat di Instagram @jemari.film

(prf/ega)