Anggota DPRA Minta Gubernur Aceh Evaluasi Sistem Belajar Online

Agus Setyadi - detikNews
Senin, 30 Nov 2020 20:43 WIB
YOGYAKARTA, INDONESIA - SEPTEMBER 28: Kharisma Anisa Putri (14), uses her broke screen smartphone for studying online using free wifi provided by the village as to help parents with financial difficulties, they pay 30,000 Indonesian Rupiah or around (USD 2) per month amid the Coronavirus pandemic on September 28, 2020 in Yogyakarta, Indonesia. According to the Indonesian Ministry of Education and Culture data nearly 70 million children have been affected by school shutdowns which started in mid-March. Since it closed on March 16, the school has implemented various methods and approaches to support distance learning. Even so, its implementation in the field still faces various obstacles. The problem is limited support facilities, such as laptops, smart phones, and internet data packages. In addition, parents also claim to not have enough time and feel they lack the knowledge to accompany children to learn online. Indonesia is struggling to contain thousands of new daily cases of coronavirus amid easing of rules to allow economic activity to resume. (Photo by Ulet Ifansasti/Getty Images)
Foto: Ilustrasi belajar online (Getty Images/Ulet Ifansasti)
Banda Aceh -

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Martini meminta Gubernur Nova Iriansyah mengevaluasi sistem belajar online yang diterapkan di Aceh. Menurut Martini, saat ini para siswa lebih banyak bermain handphone (HP) daripada belajar.

"Bapak harus cari solusi bagaimana untuk kemajuan generasi kita. Dulu seingat saya, kita yang berhasil ini, bapak sekarang jadi gubernur, karena dulu sekolah tidak pakai HP. Dulu sekolah nggak bawa HP, sekarang main HP nggak sekolah," kata Martini dalam rapat paripurna di Gedung DPRA, Senin (30/11/2020).

Selain itu, Martini sempat menyinggung sikap Gubernur Nova Iriansyah. Politisi dari Partai Aceh itu berharap sinergi antara DPRA dan Pemprov Aceh dapat lebih baik demi kesejahteraan warga Tanah Rencong.

"Harapan saya pada bapak gubernur Aceh jangan setelah teken ini (persetujuan APBA 2021) tidak senyum lagi pak," ucap Martini.

"Hubungan yang baik, kerja sama yang baik kami harapkan, supaya ada kemajuan Aceh. Itu pak pesan dari saya," imbuhnya.

Seperti diketahui, hubungan DPRA dengan Pemprov Aceh sempat memanas ketika Nova Iriansyah masih menjabat Plt Gubernur Aceh. Polemik itu akhirnya melahirkan hak interpelasi hingga usulan hak angket.

Namun hingga kini, usulan hak angket itu masih menggantung. Pimpinan DPR Aceh belum membahas kelanjutan usulan hak angket tersebut.

(agse/zak)