Analisis Pakar Gestur saat Jokowi Bilang Kasus Corona Memburuk: Kesal-Sedih

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Senin, 30 Nov 2020 13:14 WIB
Jokowi dinilai kesal dengan data Corona yang memburuk (Dok. Setpres RI)
Foto: Jokowi dinilai kesal dengan data Corona yang memburuk (Dok. Setpres RI)
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) bicara blak-blakan bahwa kondisi Corona di Indonesia saat ini semuanya memburuk. Dari analisis pakar gestur, ada emosi kekesalan dan kesedihan di ucapan Jokowi.

Awalnya, pakar gestur, Handoko Gani mengamati mimik wajah Jokowi ketika memulai paparannya. Dia melihat Jokowi tampak menghela nafas.

"Yang saya catat justru helaan nafas. Sejak pertama di menit 00:01," ujar Handoko kepada wartawan, Senin (30/11/2020).

Handoko Gani menjelaskan dirinya adalah satu-satunya instruktur Ahli Deteksi Kebohongan dari dunia sipil yang memiliki gelar diploma di bidangnya, serta terotorisasi dalam penggunaan alat Layerd Voice Analysis (LVA).

Handoko kemudian menyoroti ekspresi Jokowi saat dua Provinsi, yakni DKI Jakarta dan Jawa Tengah, yang mengalami kenaikan drastis kasus positif dalam 2-3 hari belakangan.

"Saat mengucapkan kata "Jawa Tengah", terdapat gerakan AU 53C (kepala diangkat) dan AU 62D (mata ke kiri), namun dan jeda, keliatan seperti tercenung, kemudian saat mengucapkan kata 'DKI Jakarta'," ungkapnya.

Jokowi saat menyebut kondisi Corona yang memburuk semua (Dok. Setpres)Foto: Jokowi saat menyebut kondisi Corona yang memburuk semua (Dok. Setpres)

Berdasarkan pengamatan ini, Handoko menyodorkan hipotesis soal kekesalan Jokowi. Dia menyebut Jokowi merasakan beban kesedihan yang campur aduk.

"Presiden menunjukkan kekesalan dan beban kesedihan campur aduk pada penanganan COVID-19, termasuk soal vaksinasi dan mulainya vaksinasi yang keliatannya tidak disampaikan di laporan tersebut. Jawa Tengah menjadi perhatian yang beliau tidak ekspektasi. Ini harus menjadi catatan Ganjar Pranowo dan jajarannya," tuturnya.

"Yang diminta secara spesifik adalah Mendagri. Mendagri perlu memperhatikan dua area tersebut, dengan memegang data angka real. Dan kata "memburuk, memburuk semuanya" kiranya menjadi perhatian Mendagri," lanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2