Satgas COVID-19: Kerumunan Berdampak pada Timbulnya Klaster Penularan

Angga Laraspati - detikNews
Minggu, 29 Nov 2020 12:59 WIB
Jubir Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito
Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Jakarta - Juru Bicara Satgas penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito mengatakan kegiatan masyarakat yang mengundang kerumunan terbukti berpotensi besar adanya bahaya penularan COVID-19. Bahkan kegiatan kerumunan tersebut melahirkan klaster-klaster baru di berbagai daerah.

"Berdasarkan data nasional, terdapat berbagai kegiatan kerumunan yang berdampak pada timbulnya klaster penularan COVID-19 di berbagai daerah di Indonesia," ungkap Prof Wiku Adisasmito dilansir dari covid19.go.id, Minggu (29/11/2020).

Hal tersebut disampaikan Prof Wiku saat memberi keterangan pers perkembangan penanganan Covid-19 di Kantor Presiden, Kamis (26/11). Ia pun memberikan beberapa contoh seperti yang terjadi beberapa waktu lalu pada Sidang GPIB Sinode yang menghasilkan 24 kasus pada 5 provinsi.

Klaster tersebut berawal dari kegiatan agama yang dilakukan di Bogor, Jawa Barat, yang diikuti 685 peserta. Klaster itu pun kemudian berkembang dan menyebar ke provinsi lainnya yakni Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah dan Nusa Tenggara Barat.

Ia melanjutkan klaster berikutnya terjadi pada kegiatan Bisnis Tanpa Riba menghasilkan 24 kasus di 7 provinsi dan menimbulkan korban jiwa sebanyak 3 orang atau case fatality rate kasus ini mencapai 12,5%.

"Sama seperti klaster GPIB Sinode, klaster ini berawal dari kegiatan yang ada di Bogor yang diikuti 200 peserta. Kasusnya berkembang dan menyebar ke berbagai provinsi seperti Lampung, Kepulauan Riau, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur dan Papua," ujar Wiku.

Lebih lanjut ia juga menyoroti kegiatan yang dilaksanakan di Gereja Bethel Lembang, Jawa Barat dengan melibatkan sekitar 200 peserta dan menghasilkan 226 kasus dengan infection rate mencapai 35%. Lalu ada juga klaster Ijtima Ulama di Gowa, Sulawesi Selatan, dengan total peserta sekitar 8.761 orang menghasilkan 1.248 kasus pada 20 provinsi dan klaster Pondok Pesantren Temboro di Jawa Timur menimbulkan 193 kasus di 6 provinsi di lebih dari 14 kabupaten/kota dan 1 negara lain.

"Jadi tidak heran bahwa klaster tersebut terjadi karena adanya kerumunan di masyarakat. Dan masyarakat akan sulit menjaga jarak," imbuh Wiku.

Wiku menambahkan fenomena klaster kerumunan juga pernah terjadi saat kapal pesiar besar Diamond Princess yang mengangkut 2000 - 4000 penumpang dan harus dikarantina di Jepang pada bulan Februari tahun 2020. Kondisi di dalamnya penuh sesak dan sulit menjaga jarak yang mengakibatkan 17% dari 3.700 penumpang dan awak kapal terinfeksi Covid-19.

Ia pun mengutip sebuah penelitian dari Ibrahim dan Memish tahun 2020 yang menyatakan kemungkinan adanya hubungan dua arah antara kerumunan dan penyebaran penyakit menular sehingga penting untuk menjadi perhatian publik agar menghindari kondisi kerumunan.

Wiku mengatakan dampak dari adanya kerumunan berpeluang besar menjadi testing (pemeriksaan), tracing (pelacakan) dan treatment (perawatan) (3T) harus dilakukan segera dan menyeluruh. Karena periode inkubasi antara terpapar virus dan gejala rata-rata hanya 5 hari dan gejala dapat muncul 2 hari kemudian.

"Jika bisa disimpulkan, bahwa ada waktu sekitar 3 hari terhadap kontak erat itu dilacak. Dan diisolasi segera, sebelum terus melanjutkan penularan ke lingkar yang lebih luas lagi. Saya minta kesadaran dan kerja sama untuk tidak berkerumun. Karena apa yang kita semai, inilah yang akan kita tuai. Jangan gegabah dan egois," pungkas Wiku.

Simak video 'PSBB Transisi Diperpanjang, Kawasan Bundaran HI Tetap Ramai Warga':

[Gambas:Video 20detik]



(akn/ega)