Ketua MPR Ajak Diaspora di Taiwan Terapkan Nilai Kebangsaan

Inkana Putri - detikNews
Sabtu, 28 Nov 2020 14:58 WIB
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo
Foto: dok. MPR RI
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menyampaikan soal pentingnya menerapkan nilai kebangsaan kepada Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Hsinchu, Taiwan. Pasalnya, pelajar yang menempuh pendidikan di luar negeri akan bertemu berbagai tantangan, salah satunya culture shock.

Meskipun demikian, Bamsoet yakin pelajar Indonesia yang sedang menempuh pendidikan tinggi baik di dalam maupun di luar negeri, merupakan generasi terpilih yang akan meneruskan kepemimpinan Indonesia di masa depan.

"Belajar di luar negeri menghadirkan berbagai tantangan, mulai dari kendala bahasa, beradaptasi dengan lingkungan sekitar baik dengan masyarakat lokal maupun dengan komunitas akademis, serta culture shock atau biasa disebut gegar budaya/kejutan budaya," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Sabtu (28/11/2020).

Hal tersebut disampaikan saat melakukan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI ke PPI di Taiwan secara virtual dari Jakarta. Ia menjelaskan culture shock tidak hanya dialami saat pelajar Indonesia berada di luar negeri, melainkan setelah melewati proses adaptasi dan asimilasi.

Akibatnya, tak jarang pelajar yang merasa nyaman dengan kebiasaan dan adat bangsa lain sehingga saat kembali ke tanah air mereka merasakan culture shock terhadap budaya di negeri sendiri.

"Di sinilah pentingnya generasi muda sebagai aset pembangunan, di manapun mereka berada, mesti dibekali dengan nilai-nilai dan wawasan kebangsaan. Sehingga tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang tidak sekadar cerdas, tetapi juga berkarakter Indonesia dan berhati Pancasila," jelasnya.

Menurutnya, saat nilai-nilai kebangsaan telah melekat di dalam diri, maka nilai tersebut tidak akan hilang oleh pengaruh budaya yang tidak sejalan dengan jati diri dan kepribadian bangsa Indonesia. Oleh karena itu, ia mengimbau agar para pelajar bisa mengoptimalkan segala kapasitas diri saat menghadapi culture shock dengan budaya bangsa sendiri.

"Generasi seperti ini adalah generasi yang akan selalu berpandangan, 'It is better to light a candle than curse the darkness'. Lebih baik menyalakan sebuah lilin daripada mengutuk kegelapan," katanya.

Terkait hal ini, Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini juga menyampaikan keprihatinannya dengan kondisi saat ini. Pasalnya, nilai-nilai kebangsaan kurang mendapatkan perhatian sebagian generasi milenial.

Berdasarkan survei CSIS, tercatat ada sekitar 10 persen generasi milenial yang setuju mengganti Pancasila dengan ideologi lain. Kemudian, survei Komunitas Pancasila Muda pada akhir Mei 2020 mencatat 19,5 persen responden generasi muda menganggap Pancasila hanya sekedar nama tanpa memahami maknanya.

"Meskipun secara statistik, angka-angka tersebut dapat diasumsikan sebagai pandangan minoritas, namun bila tidak disikapi dengan hati-hati dan bijaksana, akan menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak ketika mendapatkan momentumnya," ungkapnya.

Bamsoet menambahkan arus globalisasi saat ini dapat membuat semangat kebangsaan di kalangan generasi muda semakin memudar. Mengingat arus globalisasi banyak menawarkan gaya hidup dan berbagai paham yang tidak selaras dengan jati diri bangsa Indonesia. Terlebih saat ini generasi muda cenderung bersikap hidup individualis, egois, dan pragmatis.

"Saya sangat mengharapkan partisipasi segenap mahasiswa Indonesia di Hsinchu, Taiwan, agar aktif menyampaikan narasi-narasi kebangsaan dalam rangka menumbuh-kembangkan semangat nasionalisme, membangun karakter dan wawasan kebangsaan. Tentunya hal ini selaras dengan visi Keluarga Besar PPI Hsinchu, yaitu terwujudnya PPI Hsinchu sebagai wadah bagi mahasiswa Indonesia yang solid, sinergis, kolaboratif dan inovatif untuk berkontribusi bagi bangsa Indonesia," pungkasnya.

Sebagai informasi, dalam kesempatan tersebut turut hadir Pimpinan Badan Pengkajian MPR RI Agun Gunanjar Sudarsa, Koordinator PPI Hsinchu Angger Baskoro, serta Ketua Divisi Akademik dan Karir PPI Hsinchu, Dawi Karomati Baroroh.

(prf/ega)