Fatwa di Munas X MUI Soal Human Diploid Cell: Boleh dengan Syarat

Zunita Putri - detikNews
Jumat, 27 Nov 2020 00:55 WIB
Logo MUI
Logo MUI (Foto: detikINET/Agus Tri Haryanto)
Jakarta -

Sidang yang digelar dalam Musyawarah Nasional (Munas) X Majelis Ulama Indonesia (MUI) menghasilkan 5 fatwa. Salah satunya soal penggunaan human diploid cell atau sel diploid manusia.

Juru Bicara Sidang Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh, dalam keterangannya menjelaskan penggunaan sel yang berasal dari tubuh manusia untuk obat dan vaksin hukumnya haram. Namun, bila situasinya darurat , penggunaan sel tubuh manusia diperbolehkan.

"Dalam hal terjadi kondisi kedaruratan (dharurah syar'iyah) atau kebutuhan mendesak (hajah syar'iyah), penggunaan human diploid cell untuk bahan obat atau vaksin hukumnya boleh, dengan syarat," kata Asrorun, Jumat (27/11/2020).

Syarat yang pertama yakni tidak ada bahan lain yang memiliki khasiat dan fungsi serupa dengan bahan yang berasal dari tubuh manusia. Syarat kedua, obat yang menggunakan sel dari tubuh manusia hanya dipergunakan untuk pengobatan berat.

"Jika tanpa obat atau vaksin tersebut maka berdasarkan keterangan ahli yang kompeten dan terpercaya diyakini akan timbul dampak kemudaratan lebih besar," kata Asrorun.

Syarat selanjutnya, tidak adanya bahaya bagi manusia yang diambil sel tubuhnya untuk obat atau vaksin. Lalu, pengambilan sel tubuh harus seizing pendonor.

"Apabila sel tubuh manusia yang dijadikan bahan obat atau vaksin bersumber dari embrio, maka harus didapatkan melalui cara yang dibolehkan secara syar'i, seperti berasal dari janin yang keguguran spontan atau digugurkan atas indikasi medis, atau didapatkan dari sisa embrio yang tidak dipakai pada inseminasi buatan atau IVF (in vitro fertilization)," tuturnya.

Selain itu, munas x tersebut turut menghasilkan fatwa soal pemakaian masker bagi orang yang sedang ihram. Dalam fatwa itu, dijelaskan pemakaian masker saat ihram diperbolehkan dengan syarat dalam kondisi darurat.

"Dalam keadaan darurat atau kebutuhan mendesak (al-hajah al-syar'iyah), memakai masker bagi perempuan yang sedang ihram haji atau umrah hukumnya boleh (mubah)," ungkap Asrorun.

Asrorun menjelaskan keadaan darurat atau mendesak yang dimaksud antara lain seperti kondisi penularan penyakit yang berbahaya, cuaca ekstrem, dan ancaman kesehatan bila tidak memakai masker.

Berikut hasil lengkap 5 fatwa dalam munas x MUI:

Selanjutnya
Halaman
1 2