Satgas Ungkap Deretan Klaster Corona Imbas Kerumunan, Ada yang 1.200 Kasus

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 26 Nov 2020 18:11 WIB
Jubir Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito
Jubir Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito (Satgas Penanganan COVID-19)
Jakarta -

Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19, Prof Wiku Adisasmito, memaparkan data kegiatan kerumunan yang berdampak timbulnya klaster Corona. Setidaknya ada lima klaster di wilayah RI yang menyumbang kasus tambahan Corona setiap harinya.

"Berdasarkan data nasional terdapat berbagai kegiatan kerumunan yang berdampak ada timbulnya klaster penularan COVID-19 di berbagai daerah di Indonesia," kata Wiku dalam konferensi pers yang ditayangkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (26/11/2020).

Kalster pertama yang dipaparkan Wiku ialah klaster Sidang GPIB Sinode. Dari kegiatan itu, kata dia, menghasilkan 24 kasus Corona di 5 provinsi.

"Kalster ini berawal dari kegiatan agama yang dilakukan di Bogor dengan mengikutsertakan 685 peserta yang berkembang dan menyebar ke berbagai provinsi lainnya, yaitu Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan NTB," jelas dia.

Selanjutnya klaster kegiatan bisnis tanpa riba yang juga digelar di Bogor, Jawa Barat. Kegiatan ini juga menyebabkan adanya 24 kasus Corona di 7 provinsi dan menimbulkan 3 orang meninggal dunia.

"Case fatality rate-nya mencapai 12,5 persen sama seperti klaster GPIB Sinode, klaster ini berawal dari kegiatan yang dilakukan di Bogor dengan melibatkan 200 peserta dan kasusnya berkembang dan menyebar ke berbagai provinsi lainnya, yaitu lampung, Kepulauan Riau, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, dan Papua," terang Wiku.

Berikut ada klaster Gereja Bethel Lembang, Jawa Barat. Kegiatan ini melibatkan 200 peserta dan menghasilkan total 226 kasus Corona. Lalu Klaster Ijtimak Ulama Gowa, Sulawesi Selatan, dengan total peserta mencapai 8.761 orang yang menghasilkan 1.248 kasus di 20 provinsi.

"Dan klaster Pondok Pesantren Temboro di Jawa Timur yang menimbulkan 193 kasus di 6 provinsi dan lebih dari 14 kabupaten/kota dan satu negara lain," kata Wiku.

Wiku menjelaskan, adanya data klaster kasus Corona ini akibat kerumunan dan sulitnya menjaga jarak. Hal itu juga yang menurut Wiku terjadi di Kapal Pesiar Diamond Princes.

Kapal itu disebutkan mengangkut 4.000 penumpang yang kemudian harus dikarantina di Jepang pada Februari 2020. Sulitnya jaga jarak, sehingga 17 persen dari 3.700 penumpang dan kru kapal terpapar Corona.

"Berbagai pengalaman ini, adanya klaster akibat kerumunan yang terjadi ini sesuai dengan penelitian yang menyatakan kemungkinan adanya hubungan 2 arah antara kerumunan dan penyebaran penyakit menular jadi ini adalah penting untuk menjadi perhatian publik bahwa kondisi kerumunan itu harus dihindari besar dampak peluang kerumunan menjadi testing, tracing, dan treatment, harus dilakukan segera dan menyeluruh," jelas dia.

Wiku mengatakan periode inkubasi antara terpapar virus dan gejala rata-rata kurun waktu 5 hari. Dan, gejala baru muncul 2 hari kemudian.

"Jika bisa disimpulkan ada waktu 3 hari untuk kontak erat itu dilacak dan diisolasi segera sebelum terus melanjutkan ke lingkaran yang lebih luas lagi. Saya minta kesadaran dan kerja samanya untuk tak berkerumun. Apa yang kita semai, itulah yang akan kita tuai. Jangan gegabah dan egois," kata Wiku.

(idn/imk)