Kolom Hikmah

Hati

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 27 Nov 2020 06:01 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta - Salah satu nikmat Allah yang merupakan organ tubuh vital adalah Hati. Hati memiliki banyak fungsi dalam tubuh kita, antara lain: menetralisir dan menawar racun, mengatur sirkulasi hormon, mengatur komposisi darah yang mengandung lemak, gula protein dan zat lain.

Adapun tinjauan lain tentang makna "hati". Dalam kehidupan sehari-hari sering kita mendengar bahwa seseorang hatinya baik dan ada yg buruk. Arti hati dalam hal ini adalah kalbu yang merupakan serapan dari bahasa Arab, qalb. Maknanya adalah membalik atau bolak balik, sehingga kita sering merasa bimbang, ragu dan mudah berubah pendirian.

Oleh karena itu Rasulullah memberi pelajaran pada kita sebuah do'a : "Wahai (Tuhan) yang membolak balik hati, condongkanlah hatiku pada agama-Mu dan selalu ingin ta'at kepada-Mu." (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi).

Bagaimana kita menjaga hati agar tetap tidak menoleh pada selain-Nya. Menjaga hati harus sungguh-sungguh karena hati adalah bagian tubuh manusia yang paling besar potensi bahayanya, paling dominan dampaknya, paling rumit masalahnya dan paling sulit untuk memperbaikinya.

Yang pertama, selalu mengingat pada Allah swt dan memohon bimbingan dalam beribadah. Ada tiga firman Allah yang menyebut kata hati dan mengulang-ulang.
Dalam surah al-Mu'min ayat 19, "Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. "Disambung dengan, "Dan Allah mengetahui apa yang (tersimpan) dalam hatimu. "( Q.S. al-Ahzab : 51 ). Ayat terakhir, "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati." (Q.S. al-Anfal : 43).

Kedua, sabda Rasulullah saw yang berbunyi, "Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging, apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Namun, apabila ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa ia adalah hati. ( Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Ahmad ).

Jika diibaratkan bahwa hati adalah raja, sebagai pimpinan yang harus ditaati dan dipatuhi. Sementara anggota tubuh yang lain adalah pengikutnya. Jika yang diikuti adalah baik maka baiklah semua pengikutnya. Ini berlaku sampai sekarang dan masih relevan. Seorang Presiden terpilih akan menentukan nasib seluruh rakyatnya, jika dalam kebijakan yang dibuatnya, akan berdampak pada seluruh rakyat, menjadi makmur atau sebaliknya.

Oleh karena itu seorang pemimpin apakah Bupati, Walikota, Gubernur dan Presiden sekalipun hendaklah sudah teruji hawa nafsunya. Apakah dalam masa kesempitan, dia bisa bersabar? dan di masa lapang, apakah bisa mengendalikan hawa nafsunya?. Pola Pilkada yang diterapkan sejak 2005, menghasilkan 300 kepala daerah yang menjadi tersangka dan 124 di antaranya ditangani KPK (data sampai awal Agustus 2020). Artinya banyak kepala daerah terpilih yang gagal mengendalikan hawa nafsunya. Artikel ini dibuat pada 25 November 2020 dini hari saat ada kabar seorang Menteri ditangkap KPK. Ini benar- benar membuktikan bahwa godaan karena jabatan telah melenakan dan hawa nafsu yang mengendalikan kita.

Ketiga, hati adalah titik perhatian Allah swt. Sesuai dengan sabda Radulullah saw, "Sesungguhnya Allah swt tidak melihat rupa dan bentuk kalian, tetapi Dia melihat hati kalian." ( Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah ).

Sungguh aneh banyak manusia justru mengurusi muka atau rupa agar terlihat indah tanpa terlihat cacatnya. Memang kehidupan saat ini justru wajah menjadi pusat perhatian manusia, seperti para bintang korea yang konon pada umumnya sudah melakukan operasi wajah. Seharusnya yang dilakukan adalah membersihkan hati dari sifat-sifat tercela dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji, agar Allah swt tidka melihat hatinya dalam keadaan kotor, buruk dan berpenyakit.

Dengan ketiga langkah tersebut, diharapkan seorang hamba bisa menjaga hati tetap bersih. Tahapan pembersihan hati menuju keikhlasan paripurna.

1. Takhalli, membersihkan hati dari keterikatan dengan dunia.

2. Tahalli, mengisi hati yg telah kosong dari keterikatan dunia dengan hanya Allah.

3. Tajalli, lebur bersama Allah dalam kenikmatan yg tdk dapat dilukiskan.

Jika seseorang sudah bisa mencapai tahapan pembersihan hati tingkat Tajalli, In syaa Allah dia terpilih berada di sisi Allah SWT, dan dia tidak akan ingat lagi siapa dirinya, karena cahaya keindahan-Nya memancar kepada dirinya.

Aunur Rofiq

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia )

Sekjen DPP PPP 2014-2016

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)-- (erd/erd)