Tommy Sumardi Bantah Bawa Nama Kabareskrim dan Azis saat Ketemu Napoleon

Luqman Arun - detikNews
Selasa, 24 Nov 2020 23:39 WIB
Irjen Napoleon Bonaparte mendatangi Pengadilan Tipikor, Jakarta. Kedatangannya untuk menjadi saksi di sidang Tommy Sumardi terkait perkara suap Djoko Tjandra.
Tommy Sumardi (kiri)/Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Terdakwa kasus suap penghapusan red notice Djoko Tjandra, Tommy Sumardi, membantah kesaksian mantan Kadiv Hubinter Polri Irjen Napoleon Bonaparte yang menyebut Tommy membawa-bawa nama Kabareskrim Komjen Listyo Sigit Prabowo hingga Wakil Ketua DPR, Azis Syamsuddin dalam pertemuan keduanya. Tommy mengatakan tidak menyebut nama siapa pun.

Awalnya, dalam keterangannya sebagai saksi Napolen menyebut bahwa Tommy membawa-bawa nama Kabareskrim serta Azis Syamsuddin saat keduanya bertemu. Napoleon mengklaim Tommy mengaku dekat dengan sosok Kabareskrim. Namun klaim Napoleon ini dibantah langsung oleh Tommy selaku terdakwa di perkara ini.

"Baik yang mulai, minta izin meluruskan saja, ini menyangkut petinggi di Senayan dan kepolisian yang disebut (Napoleon). Nomor satu saya datang ke situ ketemu beliau dikenalkan oleh Brigjen Prasetijo Utomo. Begitu saya datang itu, tidak menyebut nama siapa-siapa dan tidak meminta Prasetijo keluar," kata Tommy dalam persidangan di PN Tipikor, Jalan Bungur Raya, Jakarta Pusat, Selasa (24/11/2020).

Hakim ketua, Muhammad Damis, menanyakan apakah Tommy keberatan dengan pernyataan Napoleon. Tommy menyatakan keberatan dan mengatakan tidak melakukan yang disebutkan Napoleon. Hakim Damis kemudian menegaskan lagi kesaksian Tommy itu.

"Saudara keberatan dengan keterangan saksi ini (Napoleon Bonaparte) yang menyatakan bahwa saudara ke situ membawa nama Kabareskrim, nama Azis Syamuddin dan Bambang Soesatyp, saudara keberatan?" tanya hakim Damis.

"Keberatan yang mulia," jawab Tommy.

"Saudara tidak melakukan itu," tanya hakim Damis lagi.

"Tidak yang mulia. Karena saya tidak bisa menzalimi orang. Mengenai yang beliau katakan bahwa saya itu datang ke sana mengarang-ngarang cerita seakan beliau ini ada tindak pidana ini, memang saya gila yang mulia, saya masuk penjara gara-gara ini, jadi apa yang saya lakukan sesuai dengan BAP, itu keterangan yang sebenar-benarnya yang mulia," jawab Tommy.

Dalam kesempatan ini, Tommy juga membantah pula pernyataan Napoleon yang tidak pernah menerima uang.

"Itu bohong yang mulia, tidak benar," kata Tommy.

Di akhir persidangan, Napoleon mengungkap fakta baru soal pertemuannya dengan Tommy dan Brigjen Prasetijo di Rutan Bareskrim pada 14 Oktober 2020.

"Apakah boleh kami menyampaikan satu bukti baru apa? Ada cerita yang mulia,"

"Hari saat ditahan dengan tersakwa Tommy Sumardi 14 Oktober di Rutan Bareskrim Polri. Sore hari terdakwa Tommy Sumardi berupaya menemui saya. Pertama saya tolak, kedua saya tolak. Tetap minta bantuan saksi Prasetijo Utomo. Akhirnya karena dia mengatakan ingin bertemu dan bercerita dengan saya semua latar belakang ini akhirnya saya persilakan bertemu saya. Jam 20.00 14 Oktober di tahanan kamar 25 kamar saya terdakwa dihadiri putranya Saudara Eko yang juga lawyer dan Brigjen Prasetijo berempat bercerita banyak soal latar belakang ini semua. Saya punya bukti rekaman dengan transkripnya," ungkapnya.

Tommy membenarkan pertemuan itu. Dia merasa takut dan ingin mendekatkan diri ke Napoleon karena merasa bukan lingkungannya.

Sebelumnya, dalam perkara ini Tommy Sumardi didakwa bersama-sama dengan Djoko Tjandra memberikan suap ke Irjen Napoleon Bonaparte dan Brigjen Prasetijo Utomo. Irjen Napoleon sendiri telah disidang dalam perkara ini, begitupun Brigjen Prasetijo.

Irjen Napoleon sebelumnya menjabat sebagai Kadivhubinter Polri. Sedangkan Brigjen Prasetijo selaku Kepala Biro Kordinator Pengawas PPNS Bareskrim Polri.

Dalam surat dakwaan, Tommy diduga memberikan SGD 200 ribu dan USD 270 ribu kepada Irjen Napoleon dan USD 150 ribu kepada Brigjen Prasetijo. Jaksa menyebut uang itu berasal dari Djoko Tjandra untuk kepentingan pengurusan red notice Interpol dan penghapusan status Djoko Tjandra dalam daftar pencarian orang (DPO).

Djoko Tjandra sendiri ditangkap berkat kerja sama police to police antara Polri dan Polisi Diraja Malaysia (PDRM). Djoko Tjandra ditangkap pada Kamis (30/7/2020) dan Kabareskrim Komjen Listyo Sigit Prabowo turun langsung membawa Djoko Tjandra dari Malaysia.

(fjp/fjp)