Bermodal Keahlian Jahit, Wanita Banjar Lestarikan Kain Sasirangan

Yudistira Imandiar - detikNews
Selasa, 24 Nov 2020 22:38 WIB
Banjarmasin terkenal dengan kerajinan kain Sasirangan. Yuk kita lihat proses pembuatan kain tersebut di Rumah Sasirangan yang didirikan oleh Bank Indonesia.
Ilustrasi. Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Berbekal keahlian menjahit, Aya Sofia memulai usaha kerajinan kain sasirangan di tahun 2017 lewat brand 'Kinday Limpuar Sasirangan'. Sofia mengangkat potensi alam khas Kalimantan Selatan untuk motif kain sasirangan buatannya.

Sofia menjelaskan motif kain etnik dari suku Banjar ini mempunyai motif jelujur atau garis-garis vertikal dari atas ke bawah yang memanjang.

"Tiap motif dapat dipakai oleh seluruh masyarakat tanpa ada perbedaan dan pelanggaran terhadap adat istiadat Suku Banjar," jelas Sofia dikutip dalam sebuah keterangan tertulis, Selasa (24/10/2020).

Warga Kecamatan Gambut, Banjar, Kalimantan Selatan ini menjabarkan sasirangan berasal dari kata Sirang dalam Bahasa Banjar, yang berarti menjelujur. Dalam pembuatannya, motif kain tersebut dibuat dengan jahitan dengan teknik jelujur. Kemudian jelujur ditarik atau disisit agar pewarna tidak masuk dalam pola.

"Inilah keunikan kain sasirangan, motif didapat dari kain yang tidak terkena pewarnaan," jelas Sofia.

Pada proses finishing, kain diwarnai 2-3 kali, lalu dibilas dan dijemur. Sofia mematok harga produk mulai dari kisaran Rp 100 ribu hingga paling mahal Rp 800 ribu.

"Harga jual produk berbeda tergantung jenis kain. Ada kain katun, sutra, dan primissima. Kerumitan motif, ada motif klasik dan motif modern. Serta pewarnaan, menggunakan pewarna alam dan sintetis," jelas Sofia.

Dari usaha kerajinan kain sasirangan, Sofia mampu memberdayakan masyarakat sekitar untuk ikut membantu produksinya. Saat ini ia mempekerjakan dua karyawan tetap, dan lima karyawan lepas.

Jangakuan pemasaran produk kain sasirangan milik Sofia sudah cukup luas. Ia menjual produknya ke Kalimantan Selatan dan berbagai wilayah di Indonesia.

Untuk memasarkan produk Kinday Limpuar, Sofia mengoptimalkan jalur pemasaran offline dan online untuk Go Digital melalui media sosial Instagram @sasirangankindaylimpuar.

"Sejak menjadi binaan Pertamina pada tahun 2018. Kinday Limpuar Sasirangan mulai dikenal, semakin banyak kenalan dan relasi yang ditemui. Modal pinjaman dapat dimanfaatkan secara optimal. Saya sangat berterima kasih kepada Pertamina atas bantuan ini," ungkap Sofia.

Pjs Vice President Corporate Communication Pertamina Heppy Wulansari mengapresiasi langkah yang dilakukan Sofia. Menurutnya, salah satu tujuan UMKM adalah menciptakan lapangan kerja dan pemerataan ekonomi dari tingkat yang paling kecil.

"Konsep usaha berbasis sociopreneur ini dapat membantu upaya pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan yang ada di Indonesia dan menjadi pahlawan ekonomi," ujar Heppy.

Pertamina, lanjut Heppy, juga akan membantu UMKM untuk naik kelas menjadi UMKM unggul dan mandiri melalui beberapa tahapan. Pertamina membantu pengurusan izin usaha atau sertifikat lain sehingga UMKM dapat naik kelas dan mandiri.

"Ini sebagai implementasi Goal 8 Sustainable Development Goals (SDGs). Diharapkan dapat membantu masyarakat mendapat pekerjaan yang layak dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional," lanjut Heppy

Sebagai informasi, PT. Pertamina (Persero) melalui Program Kemitraan mendukung penuh upaya pelestarian budaya lokal menjadi produk UMKM yang Go Modern dan Go Digital. Sehingga produk tersebut mampu menjadi ciri khas daerah dan banyak dikenal orang, sekaligus membuka peluang lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.

(prf/ega)