Pakar Imunisasi: Buat Vaksin Itu Jauh Lebih Susah dari Obat

Nurcholis Ma'arif - detikNews
Selasa, 24 Nov 2020 17:37 WIB
dr. Jane Soepardi, MPH., Pakar Imunisasi menjadi pembicara dalam diskusi mengenai tata laksana vaksinasi di Indonesia dengan moderator dr. Reisa Broto Asmoro, jubir Satgas Covid-19 dan duta adaptasi kebiasaan baru  di Jakarta, Senin, 23 November 2020.
Foto: kpcpen
Jakarta -

Sejumlah pihak tengah gencar menyiapkan vaksin COVID-19 untuk menanggulangi dampak virus. Namun, Pakar Imunisasi Indonesia, dr. Jane Soepardi mengingatkan masyarakat diharapkan tidak lengah untuk tetap waspada dan patuh dalam menjalankan protokol kesehatan agar tidak tertular. Bagi yang sudah terinfeksi dan kemudian sembuh, tidak berarti sudah kebal.

"Kalau kita beruntung mendapat imunisasinya dari COVID-19, jangan ditolak. Harus bersyukur kalau kita dapat vaksin ini," ungkap dr Jane dalam keterangan tertulis, Selasa (24/11/2020).


Hal itu diungkapkannya dalam Dialog Juru Bicara Pemerintah dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru bertema 'Tata Laksana Vaksinasi di Indonesia' yang diselenggarakan di Media Center Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Senin (23/11).

Dari berbagai pengalamannya dalam melakukan imunisasi selama puluhan tahun, dr. Jane sepakat bahwa vaksin adalah upaya pamungkas untuk menghentikan penyebaran COVID-19 dan membentuk kekebalan komunal.

"Pengetahuan para ilmuwan saat ini masih sangat terbatas mengenai COVID-19, selalu saja ada yang baru. Kita tidak tahu, misalnya kalau sekarang kita kena COVID-19 dan kebetulan sembuh, kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya," ujarnya.


Dia mengingatkan masyarakat agar peduli pada upaya penyediaan vaksin COVID-19 terkait dengan penanganan wabah COVID-19 yang tengah dilakukan pemerintah. Ia juga meminta agar masyarakat jangan lengah dengan beranggapan bahwa COVID-19 hanya akan sekali mengidap tubuh manusia yang sudah tertular. Dicontohkannya pada penyakit infeksi cacar air. Penyakit itu tidak hilang, namun malah mengganas seiring bertambahnya umur seseorang.

"Sebagai contoh kita kena cacar air waktu kecil, sembuh. Ternyata virus cacar itu tidur di ganglion saraf. Nanti mungkin 15-20 tahun lagi, tiba-tiba waktu kondisi kita jelek, muncul yang namanya herpes zoster (cacar ular) yang sangat sakit," terangnya.

Pakar vaksinasi ini juga menambahkan infeksi virus Corona ini sangat cepat. Oleh karena itu, dia mengimbau agar masyarakat tak sembrono, dan peduli terhadap ketersediaan vaksin nantinya. Ia menambahkan vaksin itu hanya bisa diberikan apabila telah terbukti kalau orang sehat yang diberi vaksin tetap sehat.

"Masyarakat juga harus tahu betul vaksin dengan obat itu tidak sama, berbeda sama sekali. Membuat vaksin itu jauh lebih susah daripada membuat obat. Sudah jadi pun vaksinnya, untuk bisa diterima, itu syaratnya jauh lebih sulit daripada obat," ujar dr Jane.

"Karena vaksin itu akan diberikan pada orang sehat. Obat itu diberikan kepada orang yang sudah sakit," terangnya.

Sementara itu, jubir Satgas COVID-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru, dr Reisa Broto Asmoro, turut menambahkan dalam situasi wabah penyakit COVID-19 ini, lebih baik melakukan upaya pencegahan daripada mengobati. Meskipun nantinya vaksin telah tersedia, dr Reisa meminta masyarakat tetap disiplin melaksanakan protokol kesehatan.

"Kalau kita bisa dapat imunisasi spesifiknya dari vaksin, kenapa harus sakit. Dan kita harus tetap ingat, kita harus tetap disiplin menjaga diri sendiri dan orang lain. Minimal 3M, memakai masker dengan baik dan benar, menjaga jarak aman minimal 1 meter, kemudian mencuci tangan dengan rutin sesering mungkin, idealnya dengan sabun dan air mengalir, minimal 20 detik," tukasnya.

(mul/mpr)