WHO: Negara Miskin Tak boleh Terinjak-injak dalam Perebutan Vaksin Corona

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 24 Nov 2020 14:27 WIB
Pengembang telah melaporkan tingkat keberhasilan yang tinggi dalam uji coba tahap akhir empat vaksin Covid (Reuters)
Jakarta -

Negara-negara yang paling miskin dan rentan di dunia tidak boleh "terinjak-injak dalam perebutan" vaksin Covid-19, kata pimpinan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan vaksin yang berhasil harus didistribusikan secara adil. Kemudian, uang sebanyak US$4,3 miliar (Rp61 triliun) diperlukan untuk membantu mendanai skema pembagian secara adil.

Dia mengatakan, pertanyaannya adalah "bukan apakah dunia mampu untuk berbagi ... tapi apakah dunia bisa membayar akibat dari tidak berbagi".

Empat vaksin telah melaporkan hasil yang baik dari uji coba tahap akhir.

Yang terbaru terbukti sangat efektif dalam menghentikan gejala Covid-19 adalah yang dikembangkan oleh Universitas Oxford dan AstraZeneca.

Vaksin itu jauh lebih murah untuk diproduksi daripada dua vaksin lainnya yang baru-baru ini diumumkan dan dapat berdampak lebih besar di seluruh dunia.

Vaksin Oxford yang menurut para peneliti dapat menawarkan perlindungan hingga 90%, juga lebih mudah disimpan dan diangkut daripada vaksin Pfizer-BioNTech dan Moderna.

Negara-negara berkembang hanya perlu membayar biaya pengganti pembuatan vaksin tersebut, sehingga membuatnya lebih terjangkau.

Vaksin Covid lain yang dikembangkan di Rusia, Sputnik V, telah melaporkan data awal yang baik dari uji coba fase tiga.

Apa yang dikatakan Tedros tentang kemajuan vaksin?

Berbicara dalam konferensi pers virtual pada hari Senin (23/11), Dr Tedros mengatakan hasil yang menjanjikan dari uji coba vaksin berarti "cahaya di ujung terowongan gelap yang panjang ini nampak semakin terang".

"Pentingnya pencapaian ilmiah ini tidak bisa dilebih-lebihkan," katanya.

Dia menambahkan: "Tidak ada vaksin dalam sejarah yang dikembangkan secepat ini."

Tedros mengatakan bahwa vaksin, yang digabungkan dengan tindakan kesehatan lain yang telah dicoba dan diuji, akan membantu untuk "mengakhiri pandemi".

Lebih lanjut, Dr Tedros mengatakan ia paham bahwa "setiap pemerintah ingin melakukan segala yang mereka bisa untuk melindungi rakyatnya", tapi dia khawatir bahwa negara-negara kaya akan membeli stok vaksin yang berhasil, meninggalkan negara-negara miskin dengan tangan kosong.

WHO sebelumnya mengatakan kepada BBC bahwa respons terhadap pandemi global "harus bersifat kolektif".

Beberapa negara kini membeli banyak merek vaksin karena belum diketahui vaksin mana yang akan bekerja paling efektif dan aman,

India, Uni Eropa, AS, Kanada, dan Inggris adalah negara-negara yang mencadangkan dosis paling banyak, menurut data terbaru.

Bagaimana WHO ingin membantu negara-negara miskin?

Dr Tedros mendesak lebih banyak negara untuk bergabung dengan skema berbagi vaksin global dalam platform yang dikembangkan WHO yang dikenal sebagai Covax.

Ia mengatakan 187 negara telah mendaftar dalam program ini.

Skema tersebut bertujuan untuk mendistribusikan dua miliar dosis vaksin ke seluruh dunia pada akhir tahun 2021, tetapi mereka berjuang untuk mengumpulkan dana untuk mendistribusikan pasokan ke lebih dari 90 negara berpenghasilan rendah yang telah mendaftar.

GraphicDua dosis penuh dari vaksin Oxford memberikan perlindungan 62%, setengah dosis diikuti dengan dosis penuh memberi perlindungan sebanyak 90%. Secara keseluruhan uji coba menunjukkan perlindungan 70%. (BBC)

Dr Tedros mengatakan bahwa US$4,3 miliar dibutuhkan untuk mendukung pengadaan massal dan distribusi tes dan obat untuk perawatan pada akhir tahun,

Ia menambahkan bahwa proyek tersebut akan membutuhkan tambahan US$23,8 miliar pada 2021.

Sementara itu, keprihatinan juga muncul atas fakta bahwa beberapa penandatangan Covax, termasuk Inggris dan Kanada, secara langsung merundingkan kesepakatan mereka sendiri dengan perusahaan farmasi.

"Mereka berinvestasi banyak di Covax, tetapi pada saat yang sama mereka mengambil dosis dari pasar ketika kita tahu permintaan akan melebihi pasokan yang tersedia," kata Andrea Taylor, seorang peneliti di Duke University di negara bagian North Carolina, AS.

(ita/ita)