Tentang Buku 'Why Nations Fail' yang Dibaca oleh Ketua KPK

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Selasa, 24 Nov 2020 17:15 WIB
Ketua KPK Firli Bahuri (Ahmad Arfah-detikcom)
Ketua KPK Firli Bahuri (Ahmad Arfah/detikcom)
Jakarta -

Ketua KPK Firli Bahuri mengaku telah membaca buku 'Why Nations Fail'. Pengakuan ini disampaikan Firli saat menyinggung Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang pamer membaca buku 'How Democracies Die'. Apa isi buku 'Why Nations Fail'?

Firli bercerita bahwa dia sudah membaca buku itu sejak 2002. Dikutip dari laman Goodreads, buku ini pertama kali diterbitkan pada 2012 oleh penerbit Crown Business. Buku ini ditulis oleh dua profesor ilmu ekonomi, Daron Acemo─člu dan James A Robinson.

Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul 'Mengapa Negara Gagal: Awal Mula Kekuasaan, Kemakmuran dan Kemiskinan' oleh penerbit Elex Media Komputindo.

Mengapa Negara Gagal (Dok. Gramedia)Buku 'Mengapa Negara Gagal' (Dok. Gramedia)

Dalam bukunya, kedua ilmuwan itu memaparkan beberapa faktor yang menyebabkan masih ada negara yang kaya dan yang miskin. Buku ini mengungkap latar belakang yang menyebabkan kesenjangan pendapatan dan sosial antara negara kaya dan negara miskin bisa sangat jauh berbeda, sampai-sampai eksistensi negara miskin dibayangi oleh cap 'negara gagal'.

Salah satu negara yang menjadi studi kasus dalam buku ini ialah Korea. Walau kedua negara Korea itu sama (baik dari segi budaya, suku, ras, dan etnik), situasi kehidupan antara Korea Utara dan Korea Selatan sangat jauh berbeda.

Korea Utara termasuk ke dalam deretan negara paling miskin di dunia berdasarkan pendapatan per kapitanya. Warganya hidup melarat dan dicekam oleh rezim pemerintahan yang otoriter. Sementara itu, warga Korea Selatan hidup makmur sejahtera dan dilindungi oleh pemerintah yang responsif serta mengayomi seluruh kebutuhan warganya. Korea Selatan memiliki angka pertumbuhan ekonomi yang mengagumkan di kawasan Asia.

Mereka juga mengulas soal negara-negara Afrika yang berhasil mengembangkan ekonominya, namun ada juga yang masih diliputi kecamuk perang saudara dan kelaparan.

Selain itu, cerita gagalnya Uni Soviet yang pernah mencapai kedigdayaan juga dibahas dalam buku ini.

Berangkat dari cerita kegagalan beberapa negara itu, kedua ilmuwan ekonomi ini menjelaskan bahwa institusi politik-ekonomi adalah faktor penentu keberhasilan sebuah negara. Negara yang kaya erat kaitannya dengan institusi politik ekonomi yang inklusif. Sedangkan negara yang institusi politik ekonominya bersifat ekstraktif cenderung berpotensi menjadi negara miskin dengan kondisi politik yang tak stabil.

Lihat juga video ''How Democracies Die' Disorot Gegara Anies Baswedan, Apa Isinya?':

[Gambas:Video 20detik]



Apa kata Firli soal buku ini? Silakan klik halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2