Ke Remaja Masjid, Ketua MPR Ingatkan Pentingnya Nilai Kebangsaan

Yudistira Imandiar - detikNews
Senin, 23 Nov 2020 20:49 WIB
Persaingan kursi calon Ketum Umum (Caketum) IMI Pusat 2021-2024 kini berubah. Awalnya hanya diisi dua nama. Ketua Umum IMI Pusat, Sadikin Aksa sebagai calon terkuat karena sudah didukung 28 IMI Provinsi dan Komandan Diklat TNI-AD, Letnan Jenderal TNI AM Putranto yang juga ikut dalam persaingan.
Foto: dok. IMI
Jakarta -

Menurut catatan Badan Intelijen Negara (BIN), kalangan remaja usia 17-24 tahun menjadi target utama penyebaran paham radikalisme. Sebab, usia tersebut merupakan fase pencarian jati diri sehingga seseorang cenderung lebih mudah dipengaruhi.

Hal tersebut disampaikan Ketua MPR Bambang Soesatyo dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid (BKPRMI) secara virtual dari Ruang Kerja Ketua MPR RI, Jakarta.

"Survei CSIS mencatat ada sekitar 10 persen generasi milenial yang setuju mengganti Pancasila dengan ideologi yang lain. Survei lain yang dilakukan pada akhir Mei 2020 oleh Komunitas Pancasila Muda, tercatat 19,5 persen responden menganggap Pancasila hanya sekedar nama yang tidak dipahami maknanya. Memperlihatkan betapa generasi muda bangsa mulai bersikap antipati terhadap narasi wawasan kebangsaan," lanjut Bamsoet dalam keterangannya, Senin (23/11/2020).

Merespons fenomena tersebut, kata Bamsoet, MPR menyelenggarakan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI (Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika) ke berbagai kalangan masyarakat, termasuk kepada remaja masjid. Tujuannya untuk menebalkan nilai kebangsaan sehingga generasi bangsa tak tak terpapar radikalisme, ekstremisme, maupun manipulator agama.

"Jumlah masjid dan mushola di Indonesia sekitar 800 ribu. Menggambarkan besarnya potensi yang bisa dimanfaatkan untuk memasyarakatkan nilai-nilai kebangsaan melalui berbagai aktivitas kepemudaan yang diselenggarakan di lingkungan masjid. Fungsi masjid sebagai basis pembinaan akhlak dan moral umat, dapat disinergikan sebagai basis pembinaan wawasan kebangsaan, khususnya bagi generasi muda," papar Bamsoet.

Bamsoet mengatakan saat ini bangsa Indonesia sedang menapakkan kaki menuju puncak bonus demografi, yakni penduduk usia produktif (mayoritas generasi muda) akan menjadi bagian terbesar dari komposisi penduduk Indonesia. Oleh sebab itu, penting bagi Indonesia mempersiapkan generasi muda yang berkompeten serta menjunjung nilai kebangsaan.

"Menguatkan nilai-nilai kebangsaan di kalangan remaja merupakan sebuah proses yang harus dilaksanakan secara bertahap, tidak serta merta atau instan. Karena itu diperlukan ketepatan metode dan kesinambungan proses, agar dapat mengakar kuat dalam setiap diri generasi muda," sambung Bamsoet.

Ia menyampaikan upaya pembekalan generasi muda dengan nilai-nilai ke-Indonesiaan mesti dilaksanakan dengan kesungguhan agar mengakar kuat dalam benak setiap anak bangsa, dan tidak mudah tergoyahkan oleh arus perubahan zaman. Generasi muda, lanjut Bamsoet, bukan sekedar objek, tetapi menjadi bagian tidak terpisahkan dari proses pembangunan wawasan kebangsaan.

"Dengan segala potensi diri yang penuh energi, dinamis, optimis, serta literasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang memadai, generasi muda mesti berperan sebagai generator dan dinamisator dalam pembangunan jatidiri dan karakter bangsa," ungkap Bamsoet.

Calon Ketum IMI 2021-2024 ini meyakini, kemampuan menggerakkan roda pembangunan, dan ketahanan dalam mengatasi berbagai tantangan dan hambatan, hanya akan berhasil apabila ditopang dengan ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten, kapabel, berkarakter kuat, dan mempunyai mentalitas luhur.

"Dalam konteks peran generasi muda dan remaja, maka untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas tersebut, perlu dikedepankan konsep generasi muda sebagai agen perubahan yang berkarakter kuat. Selain, menjadi pribadi utuh yang memiliki ketajaman daya fikir, kedalaman spiritualitas, dan keluhuran mentalitas," rinci Bamsoet.

(prf/prf)