Round-Up

Kisah TKI Didakwa Sihir Majikan di Saudi hingga Bebas dari Hukuman Mati

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 21 Nov 2020 22:08 WIB
ilustrasi hukum
Foto: Ilustrasi hukum (Dok.detikcom)

Lili saat itu langsung mengajukan banding melalui pengacaranya yang didampingi KBRI. Di tingkat banding, pembelaan Lili diterima sehingga hukuman matinya dibatalkan.

Pengadilan banding lalu meminta Pengadilan Shagra menyidangkan ulang kasus tersebut. Namun, saat Pengadilan Shagra mengulang sidang, hakim tetap menjatuhkan hukuman mati untuk Lili Sumarni.

"KBRI Riyadh harus selalu hadir untuk memberikan bantuan kepada setiap WNI, terlebih untuk kasus-kasus prioritas yang mendapat ancaman hukuman mati seperti Lili ini. Ini semangat jargon KBRI Riyadh: 'Kami Datang untuk WNI dan NKRI'," kata Dubes RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel ketika menjenguk Lili di Penjara Shagra.

Masih dari siaran pers KBRI Riyadh, Majlis A'la Lil-Qudhot yaitu Dewan Tinggi Para Hakim menetapkan susunan baru hakim yang mengadili kasus Lili setelah adanya putusan tersebut. Pada 6 Desember 2018, akhirnya hakim membacakan penolakan hukuman mati.

Sebagai gantinya, Lili dihukum 8 tahun penjara dan 800 cambukan karena dia tetap diputus bersalah. Mendengar putusan tersebut Lili pasrah. KBRI Riyadh dan pengacara menerima dan menyampaikan keputusan Lili kepada pengadilan.

Keputusan sidang tersebut inkrah dan Januari kemarin masa tahanan Lili habis. KBRI Riyadh berupaya memindahkan Lili dari Penjara Shagra ke Penjara Riyadh agar mempermudah proses komunikasi dan pengurusan penyelesaian administrasi dan persiapan pemulangan.

"Saya menyampaikan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada KBRI Riyadh yang selalu mendampingi saya hingga saya bisa dipulangkan ke Tanah Air," ucap Lili terisak saat akan meninggalkan Arab Saudi, Rabu lalu.

Sementara itu, Dubes Agus Maftuh menilai sosok Lili patut diteladani karena sabar dan tabah menjalani hukumannya. Selama masa tahanan, tambah Agus Maftuh, Lili memanfaatkan waktu untuk menghafal Al-Qur'an.

"Lili ini patut menjadi teladan. Ia dengan sabar dan tabah menjalani hukuman. Bahkan, di tengah hukuman itu, ia tekun menghafalkan Al-Qur'an. Di sisi lain, kita harus menghormati hukum Arab Saudi. Perbuatan sihir di sini memang dapat menyebabkan hukuman mati," tutur Agus.

KBRI Riyadh mengungkapkan terdapat 140 WNI yang overstay dalam pesawat yang ditumpangi Lili, Rabu lalu. Dari 140 WNI, 117 di antaranya diberangkatkan dari rumah detensi imigrasi/deportasi (tarhil) dan 23 lainnya dipulangkan dari shelter penampungan KBRI Riyadh.

Ratusan WNI itu seharusnya dikenai denda 30 ribu riyal per orang. Namun KBRI Riyadh berhasil bernegosiasi. Denda mereka dengan total senilai Rp 15,5 miliar pun bisa dibebaskan.

"Berkaca pada pembebasan WNI hukuman mati sebelumnya, proses pemulangan dapat memakan waktu hingga 1 tahun, sebagaimana terakhir kasus Etty binti Toyib Anwar, terpidana hukuman mati yang dibebaskan KBRI Riyadh dengan diyat sebesar 4 juta riyal (sekitar Rp 15,5 miliar)," tutur Dubes Agus.

Halaman

(rdp/idh)