Jateng-Jabar-DKI 3 Besar Kenaikan Kasus Corona Tertinggi Pekan Ini

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 17 Nov 2020 16:41 WIB
Poster
Ilustrasi penyebaran Corona (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Satgas Penanganan COVID-19 mengungkap provinsi-provinsi yang masuk tiga besar dengan kenaikan kasus positif virus Corona (COVID-19) tertinggi pekan ini. Posisi pertama ditempati oleh Jawa Tengah dengan kenaikan kasus 2.377.

"Di pekan ini kenaikan tertinggi berada di angka 2.377 kasus baru. Saya apresiasi kepada Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat, yang berhasil keluar dari lima besar kenaikan kasus tertinggi pada pekan ini. Namun sangat disayangkan pada pekan ini Jawa Tengah, Jawa Barat, dan DKI Jakarta masih berada di posisi tiga teratas kenaikan tertinggi kasus positif mingguan," kata juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito dalam konferensi pers di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (17/11/2020).

Wiku kemudian memerinci kenaikan kasus di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan DKI Jakarta. Selain itu, ada dua provinsi yang masuk daftar lima besar kenaikan kasus tertinggi pekan ini di bawah Jawa Tengah, Jawa Barat, dan DKI Jakarta.

"Jawa Tengah naik 2.377 kasus, Jawa Barat naik 875, dan DKI Jakarta naik 778 kasus. Selain itu, Banten dan Lampung masuk ke dalam lima besar kenaikan kasus tertinggi pekan ini. Banten mengalami kenaikan 262 kasus dan Lampung 204 kasus," ungkap Wiku.

Lebih lanjut Wiku mengingatkan kepada kepala daerah yang wilayahnya masuk lima besar kenaikan kasus tertinggi untuk segara melakukan perbaikan. Satgas meminta para kepala daerah tersebut agar tidak segan menindak para pelanggar protokol kesehatan.

"Ini adalah hal yang penting yang harus kita selesaikan mengingatkan provinsi-provinsi ini, terutama Provinsi Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten adalah provinsi dengan kota-kota besar yang padat penduduk dan kegiatan sosial-ekonominya sudah berjalan," imbau Wiku.

"Saya betul-betul memohon kepada kepala daerah setempat untuk menekan angka kasus. Mohon tindak tegas kepada masyarakat yang berkerumun dan tidak melaksanakan protokol kesehatan dengan ketat. Jangan sampai apa yang kita alami pada pekan lalu terulang kembali di pekan-pekan berikutnya," imbuhnya.

(zak/gbr)