HNW: Ketidaktahuan Sejarah & Jasa Ulama pada NKRI Harus Diluruskan

Abu Ubaidillah - detikNews
Sabtu, 14 Nov 2020 22:22 WIB
Hidayat Nur Wahid
Foto: Dok. MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid (HNW) menilai kerukunan dan persatuan masih kerap terganggu. Sebab ada sebagian pihak yang dinilai menyimpan sikap Islamophobia dan Indonesiaphobia dalam hati mereka.

Kriminalisasi yang kerap menimpa ulama menjadi contoh bukti Islamophobia tumbuh di Indonesia. Mereka dinilai beranggapan Islam dan Indonesia tak berhubungan, mereka juga dinilai yakin tokoh Islam diuntungkan karena kapasitasnya sebagai kelompok mayoritas. Padahal peran dan jasanya tidak sepadan dengan keistimewaan yang dinikmati.

"Ini adalah penilaian yang keliru, lantaran kurang mempelajari sejarah. Akibatnya mereka tidak mengetahui betapa besar pengorbanan dan keterlibatan ulama serta umat Islam dalam perjuangan Indonesia. Ketidaktahuan terhadap sejarah, serta jasa para ulama pada NKRI harus segera diluruskan, agar kebencian itu tidak semakin berbahaya, menjadi bara dalam sekam," kata HNW dalam keterangannya, Sabtu (14/11/2020).

Pernyataan ini disampaikan dalam acara Temu Tokoh Nasional/Kebangsaan, kerjasama MPR RI dengan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), Kota Metro secara daring di Barakah Meeting Point (BMP) Jalan AH Nasution No.185, Yosodadi, Kecamatan Metro Timur, Kota Metro, Provinsi Lampung.

HNW menilai pelurusan juga perlu dilakukan terhadap umat Islam yang masih memelihara sikap Indonesiaphobia, Sikap ini dinilai kerap muncul karena ketidakpahaman terhadap sejarah dan keterbatasannya dalam memahami ajaran agama yang benar.

Itu membuat HNW menilai suatu kelompok akan beranggapan kelompok lain yang tidak sependapat sebagai kafir, bid'ah, thagut, dan lain-lain. Padahal NKRI adalah hasil jihad dan ijtihad para ulama. Karena itu, ia menilai sudah seharusnya umat Islam menjaga dan mempertahankan NKRI dengan baik, bukan mengabaikan atau merusaknya.

"Baik kelompok yang Islamophobia maupun Indonesiaphobia, keduanya harus diluruskan agar tidak mengulangi kesalahan. Sebagai mualaf Pancasila dan mualaf NKRI, keduanya patut dituntun, agar bisa lebih memahami Islam dan Indonesia dengan baik dan benar," katanya lagi.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat turut menggunakan hak pilihnya pada Pilkada serentak secara bijaksana. Ia menyarankan untuk memilih calon yang jelas asal-usul dan pemikirannya, jangan memilih calon yang tidak jelas kemampuan atau rekam jejaknya, dan jangan menukar hak pilih dengan sesuatu yang murah. Sebab, kerugian dan penyesalannya harus ditanggung selama 5 tahun.

Sebagai informasi, ikut hadir pada acara tersebut, Ketua BKPRMI Kota Metro, Hadi Kurniadi dan tokoh masyarakat Kota Metro, Ustaz Nasriyanto. Selain HNW, acara tersebut juga menghadirkan pembicara pendamping dari Dosen Ekonomi Syariah IAIN Metro, Dharma Setiawan.

(akn/ega)