BMKG Bantah Isu Gelombang Panas Melanda Indonesia, Ini Penjelasannya

Rahel Narda Chaterine - detikNews
Sabtu, 14 Nov 2020 12:29 WIB
Ilustrasi gambar suhu panas
Ilustrasi gelombang panas Foto: Thinkstock
Jakarta -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan klarifikasi terkait informasi yang beredar tentang gelombang panas yang disebut sedang melanda Indonesia. BMKG menegaskan informasi tersebut tidak benar.

Kepala Bagian Humas BMKG Akhmad Taufan Maulana mengungkapkan telah beredar di media sosial pesan berantai yang menyatakan 'Gelombang panas kini melanda negara Indonesia'. Dalam pesan itu disebutkan bahwa kini cuaca sangat panas, suhu pada siang hari bisa mencapai 40 derajat Celsius hingga anjuran menghindari minum es atau air dingin.

"Berita yang beredar ini tentu tidak tepat, karena kondisi suhu panas dan terik saat ini tidak bisa dikatakan sebagai gelombang panas," kata Taufan dalam keterangan yang diterima detikcom, Sabtu (14/11/2020).

Taufan mengatakan suhu tertinggi siang hari memang mengalami peningkatan. Tercatat, suhu >36 derajat Celsius terjadi di Bima, Sabu, dan di Sumbawa tanggal 12 November 2020. Kemudian, suhu tertinggi pada hari itu berada di Bandara Sultan Muhammad Salahudin, Bima yaitu 37,2 derajat Celsius.

Namun Taufan menegaskan hal itu tidak menyimpang dari rata-rata iklim suhu maksimum pada wilayah Indonesia. Sebab, suhu tersebut masih berada dalam rentang variabilitas di bulan November.

"Namun catatan suhu ini bukan merupakan penyimpangan besar dari rata-rata iklim suhu maksimum pada wilayah ini, masih berada dalam rentang variabilitasnya di bulan November," ujarnya.

Taufan pun memprediksi sejumlah alasan terkait peningkatan suhu dalam beberapa waktu ini. Menurut Taufan, kenaikan suhu tersebut terjadi akibat posisi semu gerak matahari yang tepat di atas Pulau Jawa pada bulan November dan April.

"Posisi semu Matahari di atas Pulau Jawa akan terjadi dua kali, yaitu di bulan November dan April, sehingga puncak suhu maksimum mulai dari Jawa hingga NTT terjadi di seputar bulan-bulan tersebut," ujarnya.

Selain itu, kenaikan suhu juga dapat terjadi akibat cuaca cerah yang membuat penyinaran langsung sinar matahari. Ia mengatakan cuaca cerah di Jakarta selama dua hari ini terjadi karena berkembangnya siklon tropis Vamco dari Laut China Selatan.

"Cuaca cerah juga menyebabkan penyinaran langsung sinar matahari ke permukaan lebih optimal sehingga terjadi pemanasan suhu permukaan," kata Taufan.

"Cuaca cerah di Jakarta dalam dua hari terakhir berkaitan dengan berkembangnya siklon tropis Vamco di Laut China Selatan yang menarik masa udara dan awan-awan sehingga menjauhi wilayah Indonesia bagian selatan sehingga cuaca cenderung menjadi lebih cerah dalam dua hari terakhir," sambungnya.

(hel/hri)