Buku ke-18 Bamsoet Ajak Masyarakat 'Tetap Waras, Jangan Ngeres'

Yudistira Imandiar - detikNews
Rabu, 11 Nov 2020 11:58 WIB
Bambang Soesatyo
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo meluncurkan buku terbaru berjudul 'Tetap Waras, Jangan Ngeres'. Buku ke-18 yang ia tulis ini memuat refleksi pemikirannya selama setahun terakhir.

Peluncuran buku terbaru Bamsoet dilakukan berbarengan dengan pemaparan riset perdana Brain Society (BS) Center bertajuk 'Vaksin COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Indonesia' di Jakarta, Selasa (10/11).

Buku ini terbagi dalam dua bagian, yakni situasi sebelum dan sesudah Indonesia didera pandemi COVID-19. Di dalamnya terdapat otokritik dalam menghadapi pandemi COVID-19, yang dianggap Bamsoet terkadang justru malah menghilangkan nalar kebangsaan.

"Tetap waras, Jangan Ngeres, bermakna pemimpin dari tingkat pusat hingga daerah harus memberikan harapan, bukan menimbulkan kecemasan. Pejabat memberikan informasi akurat bukan menutupi kebenaran. Rakyat seharusnya taat pada aturan bukan melanggar," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Rabu (11/11/2020).

Ketua DPR RI ke-20 ini menekankan, daripada sibuk berwacana tentang rekayasa atau teori konspirasi di balik pandemi COVID-19, akan lebih baik jika semua orang mencurahkan waktu dan pikirannya untuk peduli terhadap penanganan pandemi virus Corona. Salah satunya melalui disiplin menjalankan protokol kesehatan. Dalam buku ini Bamsoet menekankan data kasus COVID-19 di dalam maupun di luar negeri harus dilihat sebagai sebuah fakta, bukan malah dijadikan bahan akrobat untuk berwacana.

"Lebih dari satu juta orang di dunia telah meninggal dunia karena virus COVID-19. Angka ini seharusnya menyadarkan kita bahwa virus COVID-19 adalah sesuatu yang nyata, bukan bagian dari teori konspirasi maupun sekadar wacana. Semua orang harus terdorong mencari solusi menekan penyebarannya. Saling menyalahkan satu sama lain, maupun menuduh pemerintah lamban mengantisipasi penularan COVID-19, bukanlah hal yang patut dilakukan," urai Bamsoet.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menjelaskan, pandemi COVID-19 telah menimbulkan kecemasan masyarakat, tenaga kesehatan dibuat kewalahan, para pengusaha kelimpungan, bahkan pemerintah pun dibuat kebingungan. Hal itu terjadi di hampir semua negara dunia, sebab tidak ada negara yang punya pengalaman menghadapi pandemi yang bisa dijadikan sebagai rujukan.

"Dalam situasi krisis, khawatir berlebihan atau terlalu menggampangkan masalah merupakan sikap yang tak boleh dilakukan, karena malah akan membuat persoalan tambah runyam. Karena itu saya mengajukan pentingnya kita tetap menjaga kesadaran dan akal sehat. Tetap waras. Waras dalam arti tetap rasional, terukur, namun juga waspada. Serta jangan Ngeres, yang berarti tak melakukan tindakan yang bisa menimbulkan instabilitas," ulas Bamsoet.

Sebagai catatan, Bamsoet mengingatkan pemerintah agar tak sekadar optimis, tapi juga harus mengantisipasi berbagai kejadian yang bisa mengoyak perekonomian. Misalnya, dampak kredit macet di bank pemerintah dan swasta yang jumlahnya dikabarkan berpotensi menembus Rp 900 triliun. Jika tak diantisipasi sejak dini, dampaknya bisa sangat luar biasa bagi perekonomian.

"Bukannya pulih pada kuartal IV, perekonomian Indonesia malah bisa lebih parah dibanding krisis moneter 1998. Ini pekerjaan rumah yang menuntut kita untuk tetap berpikir waras, dan jangan ngeres. Artinya, berbagai kebijakan yang diambil harus berdasarkan pikiran yang jernih, bukan karena emosi," imbuh Bamsoet.

Sebelum buku 'Tetap Waras dan Jangan Ngeres', ada beberapa buku yang dirilis Bamsoet, antara lain, 'Mahasiswa Gerakan dan Pemikiran' (1990), 'Kelompok Cipayung', 'Pandangan dan Realita' (1991), 'Ekonomi Indonesia 2020' (1995), 'Skandal Gila Bank Century' (2010), 'Perang Perangan Melawan Korupsi' (2011), 'Pilpres Abal-Abal Republik Amburadul' (2011). 'Republik Galau' (2012), Skandal Bank Century di Tikungan Terakhir', 'Presiden dalam Pusaran Politik Sengkuni', ' 5 Kiat Praktis Menjadi Pengusaha No.1 (2013)'.

Selanjutnya ia membuat buku 'Indonesia Gawat Darurat' (2014), 'Republik Komedi 1/2 Presiden' (2015), 'Ngeri-Ngeri Sedap' (2017), 'Dari Wartawan ke Senayan' (2018), 'Akal Sehat' (2019), 'Jurus 4 Pilar' (2020), dan 'Solusi Jalan Tengah' (2020).

(mul/ega)