Lembaga Riset Beri Masukan soal Vaksin dan Kebijakan Ekonomi

Yudistira Imandiar - detikNews
Selasa, 10 Nov 2020 17:44 WIB
Ketua Dewan Pakar BS Center Prof. Dr. Didin S. Damanhuri
Foto: dok. BS Center
Jakarta -

Brain Society (BS) Center merilis hasil riset perdana bertajuk 'Vaksin COVID-19 dan Arah Pemulihan Ekonomi Indonesia'. Dalam riset tersebut dipaparkan hal-hal terkait penyediaan vaksin untuk mengatasi pandemi COVID-19 di Indonesia, seperti tahapan uji klinis untuk memastikan keamanan vaksin serta target prioritas penerima vaksin.

Selain itu, riset yang dipimpin oleh ketua Dewan Pakar BS Center Prof. Dr. Didin S. Damanhuri tersebut juga menguliti upaya pemulihan ekonomi oleh pemerintah.

Didin menyampaikan, riset BS Center menyoroti proses uji klinis vaksin COVID-19 yang dilakukan dalam waktu tergolong cepat, kurang dari setahun. Ia mengatakan, pengujian vaksin sebaiknya dilakukan dalam waktu sekurangnya dua sampai empat tahun agar keamanannya benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.

Tim riset BS Center juga menelaah uji klinis fase 3 vaksin Sinovac yang dilakukan PT Bio Farma bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, Jawa Barat. Pengujian tersebut melibatkan 1.620 relawan dengan rentang usia 18-59 tahun yang berdomisili di Bandung.

Tim BS Center, kata Didin, merekomendasikan pengajuan vaksin tersebut sebaiknya melibatkan pula anak-anak, orang-orang lanjut usia, pemilik penyakit kronis, dan masyarakat yang berdomisili di luar Bandung.

"Sehingga dari hasil tersebut dapat memberikan gambaran representatif keefektifan dan keamanan vaksin pada populasi Indonesia yang beragam. Selain itu dengan memperluas kelompok yang diberikan vaksin dalam proses uji klinis dapat mengetahui kemungkinan efek samping yang ditimbulkan maupun fenomena ADE (Antibody-Dependent Enhancement) yang terjadi di beberapa virus seperti virus dengue, MERS, SARS, Ebola dan HIV," papar Didin dalam acara Peluncuran Hasil Riset Perdana BS Center di Jakarta, Selasa (10/11/2020).

"ADE merupakan fenomena yang mungkin terjadi pada pemberian antibodi (vaksin atau antibodi lain) yang berupa reaksi memperkuat infeksi sehingga terjadi suatu kejadian immunopatologis berat," imbuhnya.

Riset tersebut juga mendapati fakta masih kurangnya sense of crisis dari para stakeholder dalam pembuatan kebijakan ekonomi. Belum ada terobosan pola penyerapan anggaran yang berbeda dengan keadaan normal di situasi darurat ini.

"Oleh karena itu faktor koordinasi dan penghilangan ego sektoral menjadi hal yang mendesak untuk segera dilakukan," sebut Didin.

Berikutnya, untuk mencukupi kebutuhan anggaran tahun 2021 yang tidak sedikit, terlebih APBN mengalami pelebaran defisit anggaran yang konsisten, Tim BS Center menyarankan pemerintah membuat terobosan baru untuk meningkatkan sumber-sumber pendapatan negara.

Salah satu opsi yang dikemukakan BS Center, yakni kenaikan pajak untuk orang-orang kaya atau pajak progresif orang kaya. Di masa pandemi, didapati adanya kenaikan akumulasi aset orang kaya yang disimpan di lembaga keuangan seperti perbankan. Sebaliknya, masyarakat kelas menengah bawah harus menguras tabungannya atau menjual aset untuk bertahan hidup di tengah situasi pandemi. Atas dasar itu, BS Center merekomendasikan pemerintah meningkatkan tarif pajak orang pribadi untuk aset yang nilainya cukup besar, terutama secara spesifik ditujukan kepada orang kaya yang tingkat kepatuhan pajaknya rendah atau tidak mengikuti tax amnesty.

"Sumber-sumber pembiayaan alternatif yang perlu digali oleh pemerintah bisa dimulai dari perubahan regulasi UU Lalu Lintas Devisa No.24 tahun 1999. Perubahan regulasi ini mendesak untuk segera dilakukan karena rezim devisa bebas masih memberi celah bagi penduduk Indonesia menyimpan uang hasil ekspor ke luar negeri. Sementara jika Pemerintah mau mengeluarkan Perppu merevisi aturan UU Lalu Lintas Devisa maka potensi dana di luar negeri yang dapat dimanfaatkan mencapai US$150 miliar," imbuh Didin.

BS Center turut mengeluarkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2021. Hasil riset BS Center memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2021 berkisar 1,29% hingga 2,41%.

Hasil riset BS Center tersebut diapresiasi Ketua Pendiri BS Center Bambang Soesatyo. Pria yang akrab disapa Bamsoet itu mengatakan hasil riset BS Center relevan dengan problematika yang terjadi di Indonesia di masa pandemi.

"Saya merasa bangga sejak awal BS Center langsung menghadirkan hasil riset perdana yang sangat relevan untuk saat ini dan kontekstual dengan tajuk 'Vaksin COVID-19 dan Arah Pemulihan Ekonomi Indonesia'. Apakah kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah akhir-akhir ini sudah tepat dan sekuat apa bangsa kita dalam menghadapi COVID yang akan berkepanjangan dampaknya," urai Bamsoet.

Berbarengan dengan peluncuran riset perdana BS Center tersebut, Bamsoet juga merilis buku terbarunya berjudul 'Tetap Waras, Jangan "Ngeres"'. Buku ke-18 Bamsoet tersebut berisi pesan-pesan kepada masyarakat untuk tetap berpikir positif dalam situasi pandemi COVID-19.

"Walaupun dalam keadaan tertekan dalam hal ekonomi, sosial, begitu juga kesehatan pikiran kita jangan waras, jangan ngeres. Jangan berpikir melakukan kerusuhan, berharap bisa menggulingkan pemerintahan, itu pikiran yang ngeres. Tulisan ini adalah pikiran-pikiran saya selama satu tahun," jelas Bamsoet.

(prf/ega)