Kejati Bali Jawab Jerinx soal Tuntutan 3 Tahun Bui: Tak Ada Pesanan!

Angga Riza - detikNews
Senin, 09 Nov 2020 14:15 WIB
Kasi Penerangan Kejati Bali A Luga Harlianto
Kasi Penerangan Kejati Bali A Luga Harlianto. (Angga Riza/detikcom)
Denpasar -

Terdakwa I Gede Ari Astina alias Jerinx 'SID' menyoal 'pemesan' sehingga dituntut 3 tahun penjara dan denda Rp 10 juta terkait kasus 'IDI Kacung WHO'. Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali menegaskan tuntutan disusun sesuai fakta persidangan.

"Yang jelas kalau ada pemberitaan yang mengatakan tuntutan 3 tahun itu adalah tuntutan pesanan dapat saya sampaikan bahwa itu tidak benar. Adapun tuntutan itu sudah disusun berdasarkan fakta-fakta dan alat bukti yang muncul di persidangan plus hal memberatkan dan meringankan," kata Kasi Penerangan Kejati Bali A Luga Harlianto saat dihubungi detikcom, Senin (9/11/2020).

Luga mengatakan ancaman pasal yang didakwakan ke Jerinx sebenarnya 6 tahun. Namun, JPU menilai tuntutan 3 tahun sudah tepat.

"Adapun ancaman terhadap pasal itu adalah 6 tahun sehingga kemudian dalam hal dituntut 3 tahun itu yang kemudian sudah dirasa tepat untuk dijatuhkan terhadap Jerinx," ujarnya.

Luga menjelaskan tuntutan merupakan kesimpulan dari proses pembuktian yang dilakukan oleh jaksa terhadap dakwaan.

"Nah dari alat-alat bukti yang diajukan di persidangan tersebut dalam sistem peradilan kita itu adalah bagaimana bisa minimal dengan 2 alat bukti tersebut kita dapat melakukan penuntutan terhadap pasal yang didakwakan terhadap yang didakwa," ujar Luga.

Lebih lanjut, Luga menuturkan fakta-fakta di persidangan merupakan alat bukti yang telah diajukan dalam sidang untuk meyakinkan hakim.

"Nah terhadap Jerinx ini kan dia diajukan pasal alternatif yang pertama atau yang kedua dari dua pasal alternatif ini kemudian jaksa menentukan salah satunya mana yang dirasa sudah tepat dan sesuai dengan fakta-fakta di persidangan, apa fakta persidangan? Fakta persidangan adalah alat bukti, nah alat bukti inilah yang melalui tuntutan itu disimpulkan dalam upaya, karena hukum acara kita itu menganut bahwa alat bukti itu tidak cukup kemudian harus bagaimana alat bukti itu bisa memperoleh keyakinan hakim bahwa dia itu bersalah," kata Luga.