Masyarakat Indonesia Dinilai Optimistis Taklukkan Pandemi COVID-19

Nurcholis Ma'arif - detikNews
Sabtu, 07 Nov 2020 11:47 WIB
Jubir pemerintah Reisa Broto Asmoro memberikan keterangan, Senin
(14/9) / Foto: Muchlis Biro Pers
Foto: Muchlis/Biro Pers
Jakarta -

Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 dr Reisa Brotoasmoro mengutip lembaga penelitian dunia Ipsos yang menyebut masyarakat Indonesia sebagai warga di lingkungan negara-negara ASEAN yang optimistis menaklukkan pandemi COVID-19. Survei tersebut juga menyatakan 75% masyarakat Indonesia optimistis ekonomi akan menguat dalam 6 bulan mendatang.

"Cepat atau lambat, optimisme ini berdasarkan fakta bahwa upaya 3T (testing, tracing, dan treatment) pemerintah, terutama treatment atau pengobatan tentunya semakin membaik terus," kata dr Reisa dikutip dari covid19.go.id, Sabtu (7/11/2020).

dr Reisa membeberkan beberapa alasan optimisme yang ada dalam survei Ipsos, yaitu sebesar 53% masyarakat optimistis bantuan pemerintah untuk UMKM, 46% masyarakat optimistis vaksin akan ditemukan, 37% masyarakat optimistis bantuan tunai untuk masyarakat, 32% masyarakat optimistis stimulus keuangan untuk pemilik usaha, dan 30% masyarakat optimistis terhadap program Kartu Prakerja.

Optimisme ini tak lepas dari disiplin masyarakat menerapkan 3M, yaitu memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. dr Reisa juga menyebut laporan pantauan Satgas Penanganan COVID-19 telah menunjukkan sebagian besar masyarakat Indonesia tetap memakai masker dan menjaga jarak saat masa liburan panjang 28 Oktober-1 November lalu.

Ia mengatakan bahkan saat ini disiplin mencuci tangan sudah tidak lepas dari kebiasaan sehari-hari masyarakat Indonesia. Hal ini juga didukung hasil penelitian dari United Nation Children's Fund (UNICEF) dan Nielsen menunjukkan bahwa cuci tangan paling sering dipraktekkan masyarakat Indonesia.

"Sayangnya, 3M sendiri masih dipraktikkan secara terpisah. Kadang rajin mencuci tangan, tetapi kurang disiplin pakai masker dan lengah menjaga jarak. Yang bagus sih, semuanya harus dilakukan secara bersamaan, satu paket, satu kesatuan. Kalau dilakukan bersamaan maka risiko COVID-19 akan langsung turun drastis, dan penularannya bisa diturunkan sampai 0 persen," ujarnya.

Lalu optimisme lain dari penelitian Ipsos menyebutkan, semangat tinggi dan upaya mencari dan juga menyediakan vaksin COVID-19. Ada vaksin yang dikembangkan oleh Indonesia sendiri, ada yang kerja sama dengan negara-negara lain dalam kerangka kerja sama global dan multilateral.

dr Reisa lalu mengangkat sebuah opini di harian Kompas yang terbit 5 November 2020 yang ditulis Prof Gusti Ngurah Mahardika. Dalam opini tersebut Prof Mahardika menegaskan bahwa vaksin yang akan digunakan adalah vaksin yang pasti aman dan berkhasiat tinggi. Jika tidak, tidak akan masuk uji klinis fase akhir dan tidak akan mungkin disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM).

"Dalam dialog saya dengan Profesor Mahardika, beliau mengingatkan bahwa kita semua punya andil dan berjasa dalam menyukseskan vaksinasi nanti. Maka kita doakan bersama uji klinis dapat berlangsung dengan sukses, vaksin yang manjur akan hadir dan nanti dukung penuh proses vaksinasi di seluruh Indonesia," pesan dr Reisa.

Untuk itu, ia mengajak masyarakat optimistis dan mendukung upaya 3T yang dilakukan pemerintah, sementara masyarakat sendiri dapat terus meningkatkan disiplin menerapkan 3M. "Mari berikan yang terbaik untuk negeri tercinta ini. Berikan yang terbaik untuk menghentikan pandemi ini. Bersama kita pasti bisa," ajak Reisa.

Simak juga video 'Terawan Puji Kepemimpinan Jokowi dan Luhut Terkait IAR Corona RI':

[Gambas:Video 20detik]



(mul/ega)