Langit Jakarta Berkabut karena Polusi Udara? Ini Penjelasan BMKG

Nur Azizah Rizki Astuti, Gibran Maulana Ibrahim - detikNews
Jumat, 06 Nov 2020 09:36 WIB
Penampakan langit Jakarta Selatan, Jumat (6/11) pukul 07.23 WIB.
Penampakan langit Jakarta Selatan, Jumat (6/11/2020) pukul 07.23 WIB. (Foto: Gibran/detikcom)
Jakarta -

Langit Jakarta pagi ini tampak berkabut. Apakah langit Jakarta berkabut karena polusi? Badan Meteorologi, Klimatolog, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan.

"Kondisi kabut pada pagi hari di periode musim hujan seperti saat ini sangat lazim terjadi," kata Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, A Fachri Radjab, saat dikonfirmasi, Jumat (6/11/2020).

Menurut Fachri, proses pengangkatan udara saat ini tertahan. Ini karena adanya lapisan inversi suhu di atmosfer.

"Karena adanya lapisan inversi suhu di atmosfer yang membuat proses pengangkatan udara tertahan," sebut Fachri.

Ada yang bertanya-tanya apakah kabut di langit Jakarta karena polusi tinggi. Benarkah?

Kadar Polutan di Langit Jakarta Melonjak Pagi Ini karena Inversi

Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto, menyampaikan data dari Kepala Sub Bidang Pencemaran Udara BMKG, Suradi. Dalam data itu terlihat sejak semalam, konsentrasi debu polutan PM10 (ukuran 150 ug/m3.

Rata-rata harian konsentrasi PM10 150 ug/m3 adalah ambang batas harian udara dikatakan tidak sehat. Pagi ini, konsentrasi melonjak mulai pukul 06.00 WIB hingga pukul 08.00 WIB, dengan konsentrasi dari 180 hingga 218 ug/m3.

"Pagi ini di Bogor hingga Jakarta udara permukaan tampak diselimuti kabut. Pada musim hujan, pada hari-hari tertentu dapat dimungkinkan terjadi kabut karena uap air dekat permukaan tertahan oleh lapisan inversi, yaitu lapisan atmosfer di sebelah atas yang lebih panas dari pada bagian bawahnya, sehingga menahan uap air tetap di bawah dekat permukaan," jelas Siswanto.

Tonton video 'BMKG: Hujan Lebat Diprediksi di 22 Provinsi Indonesia':

[Gambas:Video 20detik]



Bagaimana penjelasan selengkapnya soal inversi? Simak di halaman selanjutnya. >>>

"Uap air yang tertahan kemudian mengalami pengembunan sehingga menjadi titik titik air atau embun. Partikel polutan di atmosfer, pada malam hari, untuk karakteristik udara Jakarta, umumnya bergerak ke bawah oleh proses udara turun (subsiden) karena udara malam hari mendingin dan lebih berat. Ketika ada inversi, maka polutan menjadi terakumulasi lebih banyak dekat permukaan, sehingga terekam di alat BMKG konsentrasinya meningkat," lanjut dia.

Siswanto menjelaskan umumnya kadar polutan menurun bila terjadi hujan atau adanya proses rain washing. Sementara, di Jakarta dan Bogor tadi malam tidak terjadi hujan sehingga menambah akumulasi polutan di dekat permukaan.

Menurut Siswanto, kabut di Jakarta pagi ini terjadi bukan karena adanya peningkatan polusi udara. Namun, konsentrasi polutan memang sedang tinggi karena dampak lapisan inversi yang lebih tebal.

"Nggak (karena meningkatnya polusi udara). Ini bukan kabut karena polusi, tetapi kabut lapisan inversi udara yang mengandung akumulasi partikel polutan lebih tinggi. Kabut udara sifatnya basah karena didominan uap air. Kalau kabut polusi sifatnya kering seperti asap. Tetapi memang konsentrasi polusi udara sedang tinggi hari ini, karena dampak adanya lapisan inversi yang lebih tebal tadi," ujar Siswanto.

Sebelumnya, berdasarkan situs AirVisual, kondisi udara Jakarta berada pada level 'very unhealthy' atau sangat tidak sehat dengan Air Quality Index (AQI) Jakarta berada di angka 238 pada pukul 07.55 WIB. Dilihat per pukul 08.35 WIB, Air Quality Index Jakarta kini di angka 198 atau 'unhealthy' alias tidak sehat.

(azr/imk)