Pemkot Bogor Godok Kebijakan Pembatasan Kantong Plastik di Pasar

Yudistira Imandiar - detikNews
Kamis, 05 Nov 2020 12:26 WIB
Pemkot Bogor
Foto: dok. Pemkot Bogor
Jakarta -

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor tengah mematangkan kebijakan pengurangan penggunaan kantong plastik di pasar tradisional. Pemkot menggandeng berbagai pihak dalam melakukan kajian dan sosialisasi kebijakan tersebut.

Pada Rabu (4/11), Wali Kota Bogor Bima Arya menggelar audiensi secara virtual bersama aktivis dari Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP). Dalam kesempatan tersebut, Bima memberikan catatan kepada Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor dan GIDKP yang nantinya akan melakukan pendampingan dalam mematangkan kebijakan pengurangan penggunaan kantong plastik di pasar tradisional.

"Ada dua catatan. Pertama adalah bagaimana kita bisa pastikan bahwa kita punya solusi untuk substitusi kantong plastik. Kedua adalah persoalan menyosialisasikan itu kepada semua," kata Bima dikutip keterangan tertulis, Kamis (5/11/2020).

"Dua hal itu pengalaman kami ketika kami menerapkan Perwali 61/2018. Kita sosialisasikan gencar, kita kasih opsi-opsinya seperti apa. Awal tahun ini sebetulnya kita sudah mulai sosialisasikan itu tapi terkendala COVID-19 jadi ada keterbatasan," urai Bima.

Bima menyambut baik peran komunitas dan aktivis lingkungan hidup yang ikut serta mendampingi perluasan implementasi kebijakan pengurangan plastik di pasar tradisional.

"Kami senang bisa berkolaborasi. Kami senang bisa didampingi, melakukan riset tentang penggunaan kantong plastik di pasar dan sosialisasinya. Mungkin bisa dibantu juga dalam konteks merumuskan regulasinya seperti apa. Kalau kegiatan ini bisa tuntas akhir tahun ini kita juga senang," ungkap Bima.

Sementara itu, Direktur Eksekutif GIDKP Tiza Mafira mengatakan dalam waktu dekat pihaknya akan menurunkan tim survei untuk melakukan kajian-kajian yang dibutuhkan. Survei tersebut dibuat untuk mendapatkan informasi terkait jenis kemasan plastik sekali pakai yang sering digunakan pedagang, serta kategori pedagang yang menggunakan kemasan plastik sekali pakai tersebut.

"Untuk survei baseline, kami akan menurunkan surveyor ke pasar secara fisik tentunya dengan mematuhi protokol kesehatan Covid. Survei ini dilakukan untuk mendapatkan informasi jenis kemasan plastik sekali pakai apa saja yang sering digunakan pedagang, kategori pedagangnya apa saja, termasuk pasar kering, pasar basah, kiosnya apa saja, apakah sayur, daging, buah, kain, dan lain-lain. Supaya kita mendapatkan gambaran keadaan sebelum intervensi," papar Tiza.

Tiza mengatakan pihaknya sementara ini akan fokus kepada salah satu pasar tertentu untuk dikembangkan terkait kemasan yang bisa menjadi alternatif selain kantong plastik, seperti tas belanja dari kain. Selanjutnya, kemasan alternatif tersebut akan diujicobakan untuk digunakan oleh pedagang.

"Seperti yang kami lakukan di pasar lain, di mana kami menjodohkan pedagang plastik di pasar. Di pasar itu selalu ada kios-kios yang khusus menjual plastik, jadi kios-kios plastik ini kita kenalkan dengan supplier tas guna ulang, bisa dari kain, bisa dari anyaman, sehingga mereka tidak menjual kresek tapi beralih menjual ke penjual tas belanja guna ulang. Hal-hal seperti itu bisa diterapkan di Bogor, tujuannya untuk membentuk ekosistem bisnis yang sudah jalan, sehingga kebiasaan itu terus berjalan dan terus diimplementasikan di pasar," ulas Tiza.

(prf/ega)