Round-Up

5 Fakta Vaksinasi Corona Sapa Warga pada Desember Pekan Ketiga

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 05 Nov 2020 05:01 WIB
The doctor prepares the syringe with the cure for vaccination.
Foto: Ilustrasi vaksin Corona (iStock)
Jakarta -

Vaksinasi virus Corona (COVID-19) molor dari rencana sebelumnya. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marinves) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan vaksinasi COVID-19 mungkin akan dimulai pada Desember 2020.

Pemerintah awalnya menargetkan vaksinasi Corona akan dilakukan pada November ini. Kemarin, Luhut menyebut vaksinasi COVID-19 akan digelar pada minggu ketiga.

"Kami akan melakukan vaksinasi di minggu ketiga Desember," kata Luhut dalam paparan pada acara The 7th Singapore Dialogue on Sustainable World Resources (SDSWR) seperti dilansir Antara, Rabu (4/11/2020).

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar PandjaitanMenko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan (Foto: KEMENKO MARVES)

Vaksin Corona saat ini berada dalam tahap uji klinis fase ketiga. Prosedur agar vaksin Corona bisa digunakan memang tidak mudah, ada serangkaian uji klinis yang harus dilakukan.

Luhut pun sebelumnya menegaskan mundurnya jadwal vaksinasi bukan karena tidak adanya pasokan. Pengunaan vaksin Corona memang harus mendapatkan persetujuan dari lembaga yang berkompeten.

Sejumlah target juga sudah dicanangkan oleh pemerintah untuk dapat menyudahi pandemi Corona di Tanah Air. Bali, menjadi salah satu daerah yang menjadi perhatian.

"Kami ingin lihat Bali jadi zona hijau, itu target kami, Bali jadi zona hijau," ucap Luhut.

Berikut 5 fakta terkait vaksinasi Corona di Indonesia sejauh ini:

9 Juta Warga Akan Divaksin
Vaksinasi COVID-19 memang molor dari target awal. Namun, rencana awal tetap tidak berubah, vaksinasi awal akan tetap dilakukan pada 2020 ini.

Ada jutaan warga yang divaksinasi pada awal prosesnya. Tapi, vaksinasi tidak disebar secara merata ke 34 provinsi di Indonesia.

"Saya rasa (vaksinasi akan dilakukan pada) sekitar 9 juta orang di wilayah spesifik yang kami percaya berkontribusi besar pada tingginya kasus COVID-19," ucap Luhut.

Vaksinasi Dilakukan di Daerah Tinggi Corona
Luhut mengatakan vaksinasi akan dilakukan didaerah yang memang diyakini menjadi penyumbang terbanyak kasus di Tanah Air.

Setidaknya ada dua daerah yang disebut Luhut. Dua daerah dimaksud yakni Jakarta dan Bali.

"Di Jakarta, misalnya, ada sejumlah area yang kami percaya berkontribusi besar pada kasus COVID-19 dan beri mereka suntikan," terang Wakil Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) itu.

Bali diketahui merupakan provinsi yang menyumbang pendapatan negara dari sektor pariwisata. Tak heran jika pemerintah memprioritaskan Pulau Dewata.

"Harapannya pada awal tahun depan karena kita akan mulai vaksinasi mulai minggu ketiga Desember," tutur Luhut.

Fakta-fakta apa lagi terkait vaksinasi Corona? Simak di halaman selanjutnya.

Gunakan EUA BPOM
Seperti disampaikan sebelumnya, molornya vaksinasi Corona dari rencana sebelumnya bukan karena pasokannya tidak ada. Kondisi tersebut terjadi karena pemerintah Indonesia juga akan menggunakan persetujuan penggunaan darurat (emergency use authorization/EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Memang butuh waktu. Namun, target yang dicanangkan pemerintah perlu mendapat dukungan dari seluruh masyarakat.

Merek Vaksinnya Sinovac
Vaksin yang akan digunakan pada minggu ketiga Desember 2020 ini bermerek Sinovac. Sinovac merupakan perusahaan bioteknologi asal China.

Mereka mengembangkan aksin Corona dengan metode inaktivasi. Inaktivasi adalah metode pembuatan vaksin dengan menggunakan versi tidak aktif dari jenis virus atau bakteri penyebab penyakit tertentu.

Masih Uji Klinis Fase 3
Vaksin Corona Sinovac mulai melakukan uji klinis fase III di Indonesia pada 11 Agustus lalu, di Bandung, Jawa Barat. Pelaksanaan uji klinis fase III ini dilakukan bersama Biofarma.

Pada September lalu, Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan harga vaksin Sinovac ini. Harganya bisa mencapak USD 20.

"Harga vaksin Sinovac antara US$10-US$20," ujar Airlangga dalam acara Sarasehan Virtual 100 Ekonom yang ditayangkan langsung CNBC Indonesia, Selasa (15/9).

(zak/zak)