Sidang Dakwaan 2 Jenderal

Alur Lengkap Suap dari Djoko Tjandra, 2 Jenderal Polisi 'Rebutan' Jatah

Zunita Putri, Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Senin, 02 Nov 2020 12:56 WIB
Jakarta -

Jaksa membeberkan cukup gamblang bagaimana seorang Irjen Napoleon Bonaparte mendapatkan suap dari Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra. Bahkan, jaksa turut menyebutkan adanya 'tawar-menawar' dalam proses transaksi haram itu hingga 'rebutan' duit suap antara Brigjen Prasetijo Utomo dengan Irjen Napoleon Bonaparte.

Awalnya Djoko Tjandra yang berada di Kuala Lumpur, Malaysia berkeinginan untuk kembali ke Indonesia. Namun rencananya itu terkendala dengan statusnya sebagai buronan serta red notice di Interpol dalam perkara pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali. Lantas, pada April 2020 Djoko Tjandra pun menyampaikan keresahannya ke seorang kawannya bernama Tommy Sumardi yang berada di Jakarta.

"Dalam percakapan tersebut terdakwa Joko Soegiarto Tjandra meminta agar Tommy Sumardi menanyakan status Interpol red notice atas nama Joko Soegiarto Tjandra di NCB Interpol Indonesia pada Divisi Hubungan Internasional Polri," ujar jaksa membacakan surat dakwaan dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Raya, Jakarta Pusat pada Senin (2/11/2020).

Permintaan Djoko Tjandra ke Tommy Sumardi itu didasari informasi yang diterimanya bila red notice atas namanya itu sudah dibuka oleh Interpol pusat di Lyon, Prancis. Djoko Tjandra pun menjanjikan Rp 10 miliar bagi siapapun yang membantunya untuk dapat kembali ke Indonesia dengan aman.

Setelahnya Tommy Sumardi menemui Brigjen Prasetijo Utomo yang kala itu menjabat sebagai Kepala Biro Koordinasi dan Pengawasan (Karo Korwas) PPNS Bareskrim Polri. Dari situ Prasetijo mengantarkan Tommy Sumardi ke Irjen Napoleon sebagai Kepala Divisi Hubungan Internasional (Kadivhubinter) Polri saat itu.

Djoko Tjandra lalu mengirimkan file surat dari istrinya ke Tommy Sumardi yang diteruskan lagi ke Prasetijo. Surat itu berisi permohonan penghapusan red notice yang ada di Divhubinter Polri. Prasetijo lalu memerintahkan anak buahnya menyunting konsep surat itu.

"Selanjutnya file konsep surat tersebut dikirimkan oleh Brigjen Prasetijo Utomo kepada Tommy Sumardi," kata jaksa.

Awal Transaksi Suap

Pada 16 April 2020 Tommy Sumardi menemui Irjen Napoleon di ruang kerjanya di lantai 11 gedung Trans-National Crime Center (TNCC) Mabes Polri. Jaksa mengatakan saat itu Tommy Sumardi membawa paper bag warna merah tua tetapi jaksa tidak menyebutkan apa isinya.

"Saat itu Tommy Sumardi menanyakan kepada Irjen Napoleon Bonaparte tentang status Interpol red notice temannya yakni Joko Soegiarto Tjandra dan oleh Irjen Napoleon Bonaparte menyatakan akan melakukan pengecekan terhadap status Interpol red notice Joko Soegiarto Tjandra. Dalam kesempatan tersebut, Tommy Sumardi juga menyerahkan paper bag warna gelap kepada Irjen Napoleon Bonaparte setelah itu Irjen Napoleon Bonaparte meminta agar Tommy Sumardi untuk kembali datang esok hari," kata jaksa.

Besoknya Tommy Sumardi datang lagi ke ruang kerja Irjen Napoleon tetapi kali ini ditemani Brigjen Prasetijo. Saat itu Irjen Napoleon blak-blakan mengenai urusan Djoko Tjandra harus ada imbalannya.

"Dalam pertemuan tersebut Irjen Napoleon Bonaparte menyampaikan bahwa 'Red notice Joko Soegiarto Tjandra bisa dibuka, karena Lyon yang buka, bukan saya. Saya bisa buka, asal ada uangnya'," kata jaksa.

"Kemudian Tommy Sumardi menanyakan berapa dan oleh Irjen Napoleon Bonaparte dijawab, '3 lah ji (Rp 3 miliar)'. Setelah itu Tommy Sumardi meninggalkan ruangan Kadivhubinter," imbuhnya.

Setelahnya Tommy Sumardi melaporkan hal itu ke Djoko Tjandra. Lantas Djoko Tjandra memberikan USD 100 ribu ke Tommy Sumardi. Kemudian pada 27 April 2020 Tommy Sumardi membawa USD 100 ribu dari Djoko Tjandra untuk diserahkan ke Irjen Napoleon.

Ternyata sempat ada 'potongan' duit suap untuk Napoleon. Kok bisa?

Tonton video 'Didakwa Terima Suap Rp 6 M, Irjen Napoleon Ajukan Eksepsi':

[Gambas:Video 20detik]