FSGI Minta Kemenkes Turun Tangan Cegah Dampak Psikologis Belajar Online

Yulida Medistiara - detikNews
Minggu, 01 Nov 2020 18:35 WIB
Ilustrasi belajar online
Ilustrasi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) (Foto: Shutterstock)
Jakarta -

FSGI menyoroti ada 3 siswa yang meninggal dunia selama masa pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang diduga karena mengalami depresi akibat banyaknya tugas. FSGI meminta agar Kementerian Kesehatan berperan untuk mencegah siswa mengalami gangguan mental selama PJJ.

"Karena problem kesehatan mental itu tinggi FSGI meminta sesuai dengan SKB 4 menteri kan juga ada di situ Kementerian Kesehatan, maka Kemenkes mestinya punya peran dalam mencegah dampak psikologis di masa pandemi," kata Dewan Pakar FSGI, Retno Listyarti, dalam konferensi pers yang disiarkan di YouTube FSGI Pusat, Minggu (1/11/2020).

Sebab Kementerian Kesehatan mempunyai program dalam menangani isu kesehatan jiwa anak dan remaja semasa masa pandemi. Selain itu, Retno mendorong pemerintah juga mengevaluasi sistem PJJ untuk mencegah terjadinya gangguan depresi pada anak.

Retno menyoroti ada 3 kasus dalam pelaksanaan PJJ selama 8 bulan. Retno menyebut kasus pertama adalah meninggalnya seorang siswa SD karena dianiaya orang tuanya akibat sulit diajarkan saat PJJ pada September.

Kasus kedua meninggalnya seorang siswi SMA di Kabupaten Gowa yang bunuh diri karena tugas PJJ yang menumpuk pada Oktober. Kasus ketiga seorang siswa MTs di kota Tarakan yang bunuh diri karena tugas PJJ yang menumpuk.

Retno menyayangkan pihak sekolah yang tidak memeriksa motif lebih lanjut seorang siswa memutuskan membunuh diri. Meskipun tak dipungkiri motif bunuh diri tak hanya dari 1 sebab saja.

"Kami sadar bahwa motif bunuh diri itu tidak pernah tunggal namun pasti ada motif utama gitu ya. Jadi ketika Dinas Kemdikbud, Kemenag tidak mempelajari tidak memeriksa sekolah kaya apa, tugasnya kaya apa, anak yang lain bagaimana itu tidak pernah diperiksa," katanya.

Selanjutnya
Halaman
1 2