ADVERTISEMENT

Di OKK PWI Bogor, Bima Arya Sebut Tantangan Politisi dan Wartawan Sama

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Minggu, 01 Nov 2020 11:33 WIB
Wali Kota Bogor Bima Arya membuka Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Bogor di Ballroom Hotel Bogor Valley
Foto: Dok. Pemkot Bogor
Jakarta -

Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan politisi dan wartawan memiliki tantangan yang sama dalam dua orientasi, yakni mata pencaharian dan pengabdian. Menurutnya, tantangan tersebut tidak selalu hitam dan putih.

"Ada pekerjaan yang orientasinya mata pencaharian, tetapi ada komponen pengabdiannya. Sebaliknya, ada juga yang sebetulnya semangatnya pengabdian, tapi munculah mata pencaharian di situ," ungkap Bima dalam keterangan tertulis, Minggu (1/11/2020).

Hal ini ia ungkapkan saat membuka Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Bogor kemarin.

Selain itu, kata Bima, ada tiga tantangan dan godaan utama yang kerap menghampiri politisi dan wartawan. Pertama adalah tantangan untuk menjaga nurani, hal ini seringkali terjebak pada kepentingan owner.

"Kalau politisi siapa ownernya, ya ketum partai. Kalau ketum partai bilang A padahal nurani kita B, maka kemudian nurani kita tergadaikan. Kepentingannya apa? Bisa kepentingan politik, bisa kepentingan bisnis," ucapnya.

"Teman-teman wartawan juga begitu. Wartawannya idealis tapi kalau ownernya pragmatis di situlah pertarungannya. Makanya kemudian banyak politisi yang membangkang. Banyak wartawan yang keluar. Wartawan tidak mungkin membangkang, karena (kalau membangkang) dikeluarkan," jelas Bima.

Kemudian tantangan yang kedua adalah menjaga akurasi dan presisi. Menurutnya politisi bisa asal ngomong, kemudian menjadi hoaks, memicu kerusuhan. Sementara, wartawan dituntut deadline, harus setor berita sekian per hari.

"Ini tidak mudah. Sekarang ini eranya post-truth. Ketika keyakinan mengalahkan kebenaran. Fakta dinomorduakan. Politisi dan wartawan itu sama. Kita ini diancam oleh kebangkitan sektarian, kebangkitan primordia, kebangkitan SARA. Tidak hanya di masa Pilkada, tapi di masa-masa biasanya juga begitu. Tidak ada presisi, tidak ada akurasi, terbawa oleh sentimen emosi," jelasnya.

Tantangan terakhir, menurut Bima, adalah bagaimana melakukan inovasi. Di era sekarang, setiap orang yang memiliki smartphone seperti menjadi pemimpin redaksi melalui kanal sosial media mereka.

"Jadi netizen ini kreasinya, inovasinya luar biasa. Merambah semua kanal. Kalau teman-teman wartawan tidak mampu berkreasi dan berinovasi maka kita akan dimakan oleh arus mainstream hari ini. Politisi juga sama. Kalau pakem lama, model lama, komunikasi lama, gaya lama, copy paste APBD, business as usual, tidak bisa. Jadi tantangan kita sama. Menjaga nurani, membangun akurasi dan melakukan inovasi," pungkasnya.

(akn/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT