Jokowi: Mengaitkan Agama dengan Terorisme adalah Kesalahan Besar

Yudistira Imandiar - detikNews
Sabtu, 31 Okt 2020 22:41 WIB
Presiden Jokowi
Foto: dok. Kemenlu
Jakarta -

Presiden RI Joko Widodo mengecam aksi teror yang menewaskan tiga orang di Gereja Notre-Dame Prancis. Di sisi lain, Jokowi juga mengecam Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dinilai menghina umat Islam di dunia.

Selain mendukung publikasi karikatur Nabi Muhammad dengan dalih kebebasan berekspresi, Macron juga mengaitkan aksi terorisme dengan agama Islam. Dalam pidatonya, Macron mengeluarkan pernyataan yang menyebut Islam sedang menghadapi krisis di seluruh dunia dan ia menuduh kelompok islamis menginginkan masa depan Prancis.

Jokowi mengecam pandangan dan pernyataan Macron yang merendahkan Islam tersebut. Menurut Jokowi agama dan terorisme merupakan dua hal yang bertolak belakang. Hal itu disampaikan Jokowi melalui keterangan pers di Istana Negara didampingi Wapres Ma'ruf Amin dan para pemuka agama di Indonesia.

"Mengaitkan agama dengan tindakan terorisme adalah sebuah kesalahan besar. Terorisme adalah terorisme. Teroris adalah teroris. Terorisme tidak ada hubungannya dengan agama apapun," tegas Jokowi, Sabtu (31/10/2020).

Indonesia telah melakukan langkah diplomasi dalam menanggapi kontroversi yang dibuat Macron. Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI meminta klarifikasi dari Duta Besar Prancis untuk Indonesia Olivier Chambard pada Selasa (27/10).

Pemerintah Indonesia menyatakan tetap menghormati kedaulatan Prancis termasuk kebebasan ekspresi yang disampaikan. Namun, dalam konteks publikasi karikatur Nabi Muhammad oleh majalah Charlie Hebdo, Indonesia melihat perbuatan itu dapat memicu timbulnya kemarahan dari umat Islam. Hal tersebut menjadi kontradiksi dengan upaya membangun kerukunan masyarakat dunia dan berpotensi menimbulkan konflik berkepanjangan.

Indonesia menyayangkan tindakan Presiden Prancis yang mendiskreditkan Islam, padahal Prancis tercatat sebagai negara Eropa dengan penduduk muslim terbanyak. Ada sekitar 7 juta warga muslim di Prancis, yang mayoritas merupakan warga naturalisasi dan keturunan imigran dari Algeria, Sub-Sahara Afrika, dan Timur Tengah.

Kesenjangan sosial menjadi salah satu masalah yang dihadapi warga muslim Prancis. Ketimpangan tersebut kerap dihubungkan dengan maraknya radikalisasi berujung aksi terorisme. Oleh sebab itu, Indonesia mendorong Prancis untuk merangkul komunitas muslim sehingga tercipta perdamaian.

"Dalam menghadapi tantangan terorisme, sebagai pemerintah kita wajib melihat semua faktor. Oleh karena itu, kami dorong Prancis untuk duduk bersama dengan komunitas muslim dalam semangat rekonsiliasi," ujar Jokowi.

Agar konflik antara Prancis dan muslim dunia tidak semakin meruncing hingga mengganggu perdamaian dunia, Indonesia membuka peluang untuk dilakukan interfaith dialog. Dialog antar umat beragama tersebut dapat menjadi medium untuk meluruskan kesalahpahaman antar agama maupun negara. Selain itu, dialog lintas agama juga penting untuk mematahkan stigma soal asosiasi Islam dan ekstremisme yang memunculkan islamophobia.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menggelar dialog antar agama dengan berbagai negara. Dialog ini terbuka untuk perwakilan dari semua agama. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan toleransi beragama.

Pemerintah Indonesia menawarkan interfaith dialog bersama Prancis dan negara lainnya untuk mencegah terjadinya konflik. Indonesia memiliki visi besar suatu hari interaksi masyarakat internasional dapat dipandu oleh prinsip kerja sama, saling memahami, toleransi, dan dapat menggunakan perbedaan sebagai aset, bukan sebagai sumber konflik.

Melihat adanya ketegangan di Prancis setelah adanya aksi pembunuhan seorang guru dan serangkaian aksi teror, KBRI Paris dan KJRI Marseille mengimbau WNI untuk berhati-hati dan menaati peraturan setempat. WNI yang membutuhkan bantuan disarankan untuk segera menghubungi hotline KBRI Paris dan KJRI Marseille yang tersedia 24 jam.

(prf/ega)