Prancis Diminta Lebih Bijak soal Penistaan Nabi Muhammad

Inkana Putri - detikNews
Sabtu, 31 Okt 2020 09:52 WIB
Wakil Ketua MPR Syarief Hasan
Foto: Dok. MPR RI
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Syarief Hasan mengecam sikap Presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang tetap membiarkan penistaan Nabi Muhammad SAW terjadi di Prancis dengan alasan kebebasan berekspresi.

Syarief menilai kartun yang menistakan Nabi Muhammad SAW bukanlah bagian dari kebebasan berekspresi yang dibenarkan.

"Prancis sebagai salah satu negara yang menganut sistem demokrasi harusnya menempatkan penghormatan kepada agama dan kepercayaan sebagai bagian dari hak asasi manusia yang mesti dijunjung tinggi," ujar Syarief dalam keterangannya, Sabtu (31/10/2020).

Ia mengatakan berdasarkan putusan Pengadilan HAM Eropa pada 25 Oktober lalu di Kota Strasbourg, Prancis telah menetapkan penistaan terhadap agama bukanlah bagian dari kebebasan berekspresi.

"Sebagai negara yang menjunjung hukum dan HAM, harusnya Prancis mengambil langkah sejalan dengan putusan Pengadilan HAM Eropa," ungkapnya.

Terkait hal ini, Syarief menegaskan agar Presiden Prancis segera menghentikan akar masalah yang semakin meluas ini.

"Presiden Prancis harusnya lebih bijak melihat bahwa umat muslim dunia terluka dengan penistaan kepada Nabi Muhammad SAW. Seharusnya, Presiden Prancis menghentikan masalah ini serta menarik seluruh pernyataannya yang sering menyudutkan Islam dan menciptakan kegaduhan dunia," tegasnya.

Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat ini juga mendorong agar Pemerintah Indonesia bertindak tegas menyikapi permasalahan ini.

"Pemerintah Indonesia yang telah memanggil Duta Besar Perancis harus memastikan pesan Indonesia benar-benar didengarkan sehingga tidak menimbulkan polemik yang kontraproduktif di tengah pandemi COVID-19," katanya.

Lebih lanjut Syarief berpesan kepada seluruh pemimpin di dunia untuk menjaga hak kelompok minoritas, khususnya hak beragama dan berkepercayaan.

"Resolusi Dewan HAM PBB di Jenewa pada 26 Maret 2009 telah menegaskan agar setiap negara menjunjung tinggi hak setiap orang untuk menjalankan agama dan kepercayaannya dengan perasaan aman. Sehingga negara-negara di dunia harus menjunjung tinggi resolusi tersebut," paparnya.

Syarief juga mengimbau agar pesan kedamaian sebagai ciri khas dari Islam yang rahmatan lil alamin digaungkan di tengah umat muslim.

"Kita harus menyampaikan aspirasi muslim dunia dengan bijak dan mencoba untuk tidak terprovokasi. Kita harus menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang menjadi rahmat dan pembawa pesan damai bagi seluruh alam semesta, sebagaimana pesan Nabi Muhammad SAW," jelasnya.

Hal ini mengingat sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan narasi dan aspirasi muslim dunia.

"Pemerintah harus benar-benar memanfaatkan bargaining position sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia untuk membawa pesan Islam dunia dan mewujudkan tujuan negara Indonesia untuk menciptakan perdamaian dunia," pungkasnya.

(prf/ega)