Round-Up

Bergema Seruan Boikot Produk Prancis dari Majelis Ulama Indonesia

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 31 Okt 2020 07:55 WIB
Jakarta -

Aksi boikot produk Prancis terus diserukan di negara-negara berpenduduk Islam, untuk menentang pernyataan dan sikap Presiden Emmanuel Macron soal Islam. Seruan boikot juga bergema ke telinga publik Tanah Air lewat Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Di negeri bersemboyan liberté, égalité, fraternité (kebebasan, keadilan, persaudaraan), masalah berawal. Presiden Macron menyampaikan ketegasannya menyikapi pemenggalan seorang guru di Prancis. Dia menyebut pemenggalan itu adalah "serangan teroris Islamis". Guru itu dibunuh karena dia mengajarkan "kebebasan berekspresi".

Sebelum peristiwa pemenggalan guru, Macron juga berbicara bahwa Islam adalah "agama yang dalam krisis di seluruh dunia hari ini". Dia akan berperang melawan Islamis radikal di Prancis yang dia sebut juga sebagai 'separatisme Islam'. Pernyataan Macron itu dilansir France 24 dengan AFP, 2 Oktober 2020.

MUI menganggap Macron tidak menghiraukan dan menggubris peringatan umat Islam sedunia. MUI meneken surat imbauan boikot produk Prancis, ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal Anwar Abbas dan Wakil Ketua Umum Muhyiddin Junaidi, tertanggal 30 Oktober 2020.

MUI menganggap Macron tetap angkuh dan sombong dengan memuji sikap kelompok pejunjung tinggi kebebasan berekspresi. Menurut MUI, kebebasan berekspresi ala Macron bersifat egoistik.

"Dengan demikian, Presiden Emmanuel Macron hanya memperhatikan kepentingannya saja dan tidak peduli kepada kepentingan dan keyakinan masyarakat dunia lainnya terutama umat Islam yang jumlahnya lebih ari 1,9 miliar di muka bumi ini," tulis MUI dalam surat bernomor Kep-1823/DP-MUI/x/2020 ini.

Lembaga swadaya masyarakat yang berdiri pada 26 Juli 1975 ini kemudian menyampaikan sikap-imbauan berisi 7 poin, nomor satu adalah soal boikot.

"Memboikot semua produk yang berasal dari negara Prancis serta mendesak kepada Pemerintah Republik Indonesia untuk melakukan tekanan dan peringatan keras kepada Pemerintah Prancis serta mengambil kebijakan untuk menarik sementara waktu Duta Besar Republik Indonesia di Paris hingga Presiden Emmanuel Macron mencabut ucapannya dan meminta maaf kepada Ummat Islam se-Dunia," tulis MUI.

Selanjutnya, MUI minta penghinaan Nabi dihentikan:

Selanjutnya
Halaman
1 2 3