Heindra Buron Kasus Nurhadi Ditangkap di Tangsel, 2 Kendaraan Diamankan

Ibnu Hariyanto - detikNews
Kamis, 29 Okt 2020 19:55 WIB
Presiden Jokowi meresmikan Gedung Baru KPK. Peresmian Gedung Baru KPK ini disebut sebagai semangat baru pemberantasan korupsi. Hadir pula Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono pada acara ini. Selain itu ada Mnteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly dan Menteri PPN/Kepala Bappenas Sofyan Djalil, Kapolri, Ketua MA, serta Jaksa Agung. Agung Pambudhy/detikcom.
Gedung KPK (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

KPK menangkap buronan kasus suap-gratifikasi eks Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi, Hiendra Soenjoto di kawasan BSD Tangerang Selatan. KPK turut mengamankan 2 kendaraan yang diduga dipakai Heindra dalam pelariannya.

"Tim KPK juga membawa 2 unit kendaraan yang diduga digunakan HS dalam pelarian selama ini," kata Wakil Ketua KPK Lili Pintauli Siregar dalam konferensi pers di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (29/10/2020).

Lili mengatakan KPK juga mengamankan sejumlah barang yang diduga milik Hiendra. Lili menjelaskan Hiendra ditangkap di sebuah apartemen saat sedang bersama temannya.

"Penyidik KPK kemudian membawa HS dan temannya ke kantor KPK," sebutnya.

Sebelumnya diberitakan, KPK menangkap buronan KPK kasus suap-gratifikasi eks Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi, Hiendra Soenjoto. Hiendra ditangkap di kawasan BSD Tangerang Selatan.

Wakil Ketua KPK Lili Pintauli Siregar mengatakan penangkapan terhadap Hiendra dilakukan pada Kamis (29/10). Heindra ditangkap setelah menjadi borunan KPK selama 8 bulan.

"Penyidik KPK dengan disaksikan pengelola apartemen, petugas security apartemen dan polisi, langsung masuk dan menangkap HS yg berada di unit dimaksud," kata Lili.

Hiendra merupakan tersangka dalam kasus dugaan suap-gratifikasi Rp 46 miliar yang menjerat Nurhadi. Hiendra yang merupakan Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) dijerat sebagai tersangka pemberi suap.

Kemudian Heindra Soenjoto bersama Nurhadi dan Rezky ditetapkan KPK sebagai buronan pada Februari 2020. Namun, Hiendra belum sempat tertangkap saat KPK melakukan penangkapan Nurhadi dan Rezky di kawasan Simprug, Jakarta Selatan pada Senin (1/6) malam.

Sedangkan dua tersangka lain yakni Nurhadi dan Menantunya Rezky Herbiyono sudah masuk tahap persidangan. Dalam persidangan ternyata, jaksa menyebut jumlah suap-gratifikasi yang diterima Nurhadi dan menantunya lebih dari Rp 46 miliar.

Nurhadi dan Rezky didakwa menerima suap dan gratifikasi Rp 83 miliar terkait pengurusan perkara di pengadilan tingkat pertama, banding, kasasi, ataupun peninjauan kembali. Nurhadi dan Rezky didakwa menerima suap dan gratifikasi dalam kurun 2014-2016.

Dengan rincian, menerima suap sebesar Rp 45.726.955.000 dan menerima gratifikasi sebesar Rp 37.287.000.000. Jika ditotal penerimaan suap dan gratifikasi, keduanya menerima suap dan gratifikasi sebesar Rp 83.013.955.000 (Rp 83 miliar).

Nurhadi dan Rezky disebut melanggar Pasal 12 huruf a dan 12B atau Pasal 11 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP jo Pasal 64 dan 65 ayat 1 KUHP.

(ibh/idh)