Dikira Beruang, Binturong di Sumbar Dievakuasi Usai Masuk Kebun Warga

Jeka Kampai - detikNews
Rabu, 28 Okt 2020 23:43 WIB
Seekor binturong di Agam, Sumbar, dievakuasi usai masuk ke kebun warga. Binturong ini sempat dikira beruang oleh warga.
Foto: Bintorung di Sumbar dievakuasi (Dok. Istimewa)
Agam -

Seekor binturong (arctictis binturong) masuk kebun milik warga bernama Martinis di Lubuk Basung, Agam, Sumatera Barat (Sumbar). Penemuan binturong ini sempat bikin heboh warga sekitar yang menyangka satwa tersebut adalah beruang.

Adanya temuan itu, Camat Lubuk Basung, Harmezi, melaporkan kepada BKSDA Resor Agam karena khawatir satwa tersebut membahayakan warga. Kepala BKSDA Resort Agam, Ade Putra, mengatakan pihaknya mendatangi lokasi penemuan dan mengevakuasi satwa langka dan dilindungi tersebut.

"Jadi warga menemukan binturong ini pada Selasa malam. Warga sempat mengira ini beruang," kata Ade kepada wartawan, Rabu (28/10/2020).

Seekor binturong di Agam, Sumbar, dievakuasi usai masuk ke kebun warga. Binturong ini sempat dikira beruang oleh warga. Foto: Bintorung di Sumbar dievakuasi (Dok. Istimewa)

Dari hasil identifikasi, diketahui binturong itu berjenis kelamin betina, berusia sekitar 4 tahun, dengan panjang dari kepala sampai ekor mencapai 130 centimeter (cm) dan berat 15 kilogram (kg). Binturong tersebut dilepasliarkan ke kawasan Hutan Cagar Alam Maninjau, setelah dipastikan kondisinya sehat dan layak untuk dikembalikan ke habitatnya.

"Sudah kita lepas liarkan kembali ke habitatnya, setelah kita pastikan kondisinya baik," kata Ade.

Seekor binturong di Agam, Sumbar, dievakuasi usai masuk ke kebun warga. Binturong ini sempat dikira beruang oleh warga. Foto: Bintorung di Sumbar dievakuasi (Dok. Istimewa)

Binturong adalah sejenis musang bertubuh besar, anggota suku viverridae. Beberapa dialek melayu menyebutnya binturong, menturung atau menturun. Dalam bahasa Inggris, hewan ini disebut binturong, malay civet cat, asian bearcat, palawan bearcat, atau secara ringkas bearcat.

Berdasarkan Red List IUCN, binturong masuk dalam hewan dengan status vulnerable atau rentan akibat adanya penurunan jumlah populasi yang diperkirakan lebih dari 30% selama 18 tahun terakhir.

"Di Indonesia sendiri, spesies ini termasuk dalam satwa yang dilindungi yang diatur dalam UU Nomor 7 tahun 1999," jelas Ade.

(rfs/jbr)