Round-Up

Bapak Keji di Aceh-Sumsel Perkosa Anak Sendiri Berkali-kali

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 28 Okt 2020 23:04 WIB
Poster
Foto: Ilustrasi pemerkosaan (Edi Wahyono/detikcom)
Medan -

Bapak di Aceh dan Sumatera Selatan (Sumsel) ditangkap polisi. Dua orang bapak keji ini ditangkap karena diduga memerkosa anak kandung mereka berkali-kali.

Kasus pertama terjadi di Aceh. Pria asal Aceh Besar, C, ditangkap polisi karena diduga memerkosa anak kandungnya empat kali sejak 2015. Korban diduga diperkosa dalam keadaan terikat dan diancam dibunuh menggunakan pisau.

"Korban kini berusia 16 tahun disetubuhi ayah kandungnya berinisial C sebanyak empat kali, yaitu pada tahun 2015 dua kali, 2017 satu kali serta terakhir Agustus 2020," kata Kasat Reskrim Polresta Banda Aceh, AKP M Ryan Citra Yudha, dalam konferensi pers di Banda Aceh, Rabu (28/10/2020).

Berawal dari Mengintip Korban

Ryan menjelaskan dugaan pemerkosaan itu bermula saat korban masuk ke kamarnya setelah mandi. Posisi kamar korban, katanya, terletak di sebelah kamar kamar C.

Dia mengatakan C diduga mengintip korban yang sedang berganti pakaian. C kemudian disebut masuk ke kamar korban sambil membawa pisau, mengikat tangan korban menggunakan jilbab lalu melakukan pemerkosaan.

Terjadi Sejak 2015

Aksi pemerkosaan diduga pertama kali terjadi pada Juni 2015. C kembali melakukan aksi bejatnya pada November 2015, 2017 dan 2020.

Ryan mengatakan aksi C terungkap pada Agustus 2020. Saat itu, C sempat mengurung korban yang diperkosanya di kamar.

Korban kemudian kabur lewat jendela dan menghubungi temannya lalu menceritakan peristiwa yang dialaminya. Cerita itu kemudian disampaikan ke abang korban yang selanjutnya melaporkan peristiwa itu ke polisi. C dibekuk di Aceh Barat Daya pada Senin (26/10).

"Pelaku mengaku menyetubuhi korban sebelum korban ke sekolah atau setelah korban sekolah. Pemerkosaan itu dilakukan saat istri pelaku atau ibu korban sedang tidak di rumah," ujar Ryan.

Ryan mengatakan C dijerat Pasal 81 ayat 1 dan 3 UU Perlindungan Anak. Ryan mengatakan pihaknya punya pertimbangan tersendiri mengapa tak menjerat C dengan Qanun Jinayah.

"Kita tidak menggunakan Qanun Jinayah karena kejahatan anak terutama pencabulan sangat meresahkan. Tidak bisa dikenakan qanun, tapi UU Perlindungan Anak biar ada efek jera terhadap pelaku dengan hukuman maksimal," ujar Ryan.

Selanjutnya
Halaman
1 2