Bahas Risiko Bencana, Kepala BNPB Ingatkan Jakarta Tak Lepas dari Patahan

Yulida Medistiara - detikNews
Rabu, 28 Okt 2020 14:32 WIB
Kepala BNPB Doni Monardo.
Foto: dok. BNPB
Jakarta -

Kepala BNPB Doni Monardo mengatakan Indonesia termasuk satu dari 35 negara dengan risiko ancaman bencana alam tertinggi di dunia. Ancaman tersebut di antaranya gempa, tak terkecuali DKI Jakarta, yang juga berada di sekitar kawasan gempa.

"Saya juga ingin menyampaikan pesan agar kita semuanya meningkatkan peningkatan pengetahuan literasi tentang kebencanaan, karena World Bank telah mencantumkan Indonesia sebagai salah satu dari 35 negara dengan resiko ancaman bencana alam tertinggi di dunia. Atas dasar itu lah pada periode-periode ke depan kita harus meningkatkan kemampuan dan pengetahuan tentang kebencanaan," kata Doni, dalam talkshow yang disiarkan di YouTube BNPB Indonesia, Rabu (28/10/2020).

Ia membagi klaster kebencanaan menjadi beberapa bagian, pertama klaster vulkanologi dan geologi. Indonesia memiliki 500 gunung api, 127 aktif, 3 gunung api yang telah meletus dan telah mempengaruhi peradaban bangsa-bangsa di dunia, yaitu gunung api Danau Toba, gunung api Tambora dan gunung api Krakatau.

Selain itu di Indonesia terdapat 300 patahan. Bahkan di DKI Jakarta juga tak lepas dari ancaman patahan yang ada di sekitar Jawa Barat.

"Kita juga punya hampir 300 patahan, bahkan Ibu Kota negara Jakarta itu pun tidak terlepas dari patahan-patahan yang ada di sekitar kawasan. Patahan Lembang, patahan Baribis, patahan Cimandiri, patahan Garsela atau Garut Selatan," kata Doni.

Lebih lanjut, DKI Jakarta juga pernah mengalami gempa tiga kali dalam periode 500 tahun terakhir, yaitu pada 5 Januari 1699, 22 Januari 1780, dan 10 Oktober 1834. Setelah 3 peristiwa itu, kini DKI Jakarta relatif aman dari gempa.

"Setelah peristiwa tersebut sampai hari ini Jakarta relatif aman dari guncangan gempa. Oleh karenanya kewaspadaan dan tingkat kesiapsiagaan harus kita jaga," ujar Doni.

Selanjutnya klaster hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, abrasi, angin puting beliung, dan tanah longsor. Bencana alam tersebut tak jarang menimbulkan korban jiwa yang tak sedikit.

Kemudian ada klaster yang berhubungan dengan pandemi dan kerusakan yang disebabkan perilaku manusia. Misalnya perilaku membuang limbah di banyak tempat.

Lebih lanjut, Doni juga meminta masyarakat di Jawa berhati-hati karena adanya dampak penurunan air tanah atau land subsidence. Hal itu akibat pemakaian air tanah oleh masyarakat.

"Land subsidence kota besar di pulau Jawa sebagian besar telah mengalami penurunan permukaan tanah karena pengambilan air tanah yang luar biasa," ujarnya.

Oleh karena itu, Doni mengajak masyarakat merawat lingkungan untuk program Indonesia emas 2045. Serta merawat sungai dan menjadikannya air minum yang berkualitas.

"Hari ini kita melihat data sungai-sungai yang telah kritis dan sangat kritis padahal sungai ini digunakan sebagai sumber air untuk kebutuhan sumber air masyarakat. Namun karena kualitas airnya semakin jelek maka industri yang mengelola air tersebut tidak bisa lagi menjadikannya sebagai air untuk konsumsi," ujarnya.

(yld/imk)