Pemerintah Ingatkan Pandemi Tak Kenal Kata Libur

Reyhan Diandri Ghivarianto - detikNews
Rabu, 28 Okt 2020 13:37 WIB
Jubir Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito
Foto: Satgas Penanganan COVID-19
Jakarta -

Pemerintah terus mengingatkan pada masyarakat agar waspada saat memasuki masa libur panjang Maulid Nabi SAW dan cuti bersama dari tanggal 28 Oktober sampai 1 November 2020 akhir pekan ini.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito meminta kesiapsiagaan seluruh daerah destinasi wisata untuk antisipasi terjadinya klaster libur panjang. Menurutnya, pemerintah daerah dan masyarakat harus waspada dan bekerja sama untuk tidak menimbulkan kasus baru dan meningkatakan perawatan COVID-19 agar seluruhnya bisa sembuh.

"Ingat, pandemi tak mengenal kata libur," ujar Prof Wiku, dalam keterangan tertulis, Rabu (28/10/2020).

Saat menyampaikan keterangan pers di Media Center Satgas Penanganan COVID-19 Graha BNPB Jakarta pada Selasa (27/10) itu, Prof Wiku mengatakan jumlah penambahan kasus positif selama sepekan terakhir ini mencapai 3.520 orang, dengan kasus aktif 60.685 orang (16,4%). Torehan ini masih di bawah angka kasus aktif di dunia yang berada di angka 23,84% atau selisih 7% di bawah kasus dunia.

Begitu juga dengan jumlah kasus sembuh sampai saat ini sebanyak 322.248 orang (81,3%), sedikit lebih tinggi dari perolehan kasus sembuh dunia yang mencapai 73,49%. Kasus sembuh di dunia belakangan ini cenderung menurun sedangkan kasus sembuh di Indonesia meningkat.

"Ini kabar baik yang perlu dipertahankan, angka kesembuhan bisa naik terus, sehingga tidak ada yang meninggal," ujarnya.

Adapun jumlah kasus meninggal dalam sepekan ini menyentuh angka 13.512 orang (3,4%) masih di atas rata-rata dunia yang berada di 2,6%. Menurut Prof Wiku, dalam minggu ini, perkembangan kasus positif COVID-19 cenderung menurun sebesar 4,5%.

"Ini perkembangan ke arah lebih baik karena kasus positif alami penurunan," ungkapnya.

Prof Wiku mengungkapkan kabar baik berikutnya juga dialami oleh tiga provinsi yang pekan ini mampu menekan angka penambahan kasus positif mingguan, yakni Provinsi Sumatera Barat, Sulawesi Tengah, dan Nusa Tenggara Barat. Sebaliknya, pemerintah mengingatkan kepada lima besar provinsi yang mengalami lonjakan penambahan kasus tertinggi. Dengan perincian Jawa Barat naik 627 kasus, Banten 345 kasus, Kepulauan Riau naik 238 kasus, Riau naik 234 kasus, dan Jawa Tengah naik 184 kasus.

"Kami melihat trend dari yang sebelumnya mengalami kebaikan yang terjadi, namun daerah ini menjadi lengah. Kami mohon perhatiannya bagi daerah-daerah yang masih masuk lima besar agar melakukan evaluasi protokol kesehatan di masyarakatnya," ungkap Prof Wiku.

Prof Wiku menambahkan meski penambahan kasus positif mingguan menurun, jumlah kasus kematian mengalami kenaikan. Pekan ini peningkatan sebesar 18% pada penambahan kematian mingguan.

Provinsi Banten, Nanggroe Aceh Darussalam, DKI Jakarta, dan Sumatera Utara yang pekan sebelumnya berada di lima besar provinsi dengan angka kenaikan kematian tertinggi telah berhasil menekan angka kematian pada pekan ini sehinga keluar dari lima besar.

"Provinsi Jawa Tengah masih bertahan di lima besar kematian tertinggi seperti pekan sebelumnya. Jawa Barat naik 89, Sumatera Barat naik 22, Jawa Tengah naik 16, Kepulauan Riau naik 10, dan Nusa Tenggara Barat naik 7," pungkasnya.

Sebagai informasi, dalam mencegah COVID-19 masyarakat juga diimbau untuk berpartisipasi dalam menerapkan protokol kesehatan dengan selalu #IngatPesanIbu seperti yang dikampanyekan oleh Satgas COVID-19. Adapun kampanye tersebut mengajak masyarakat untuk menerapkan 3M dengan menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta menjaga jarak.

(akn/ega)