MPR: Peran Museum Penting untuk Tingkatkan Kesadaran Budaya Negara

Reyhan Diandri Ghivarianto - detikNews
Rabu, 28 Okt 2020 13:21 WIB
Lestari Moerdijat
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat mengatakan museum harus hadir sebagai institusi yang mampu mempertahankan entitas budaya dan sejarah bangsa. Menurutnya, museum harus bisa dimanfaatkan untuk menjawab realita dan tantangan kebangsaan saat ini.

"Ada 11.000 jurnal ilmiah di dunia yang mengungkap peran museum terhadap kesadaran sejarah dan budaya bagi masyarakatnya. Jadi secara ilmiah sudah diakui peran museum sangat penting untuk meningkatkan kesadaran sejarah dan budaya sebuah negara," ujar Lestari, dalam keterangannya, Rabu (28/10/2020).

Hal itu ia sampaikan saat menjadi pembicara kunci pada Focus Group Discussion (FGD) bertema Posisi Museum dalam Merawat Nilai Kebangsaan, yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12 dan Yayasan Mitra Museum Jakarta serta Museum Sejarah di kawasan Kota Tua, Jakarta, Selasa (27/10).

Lestari mengatakan museum berperan sangat penting bagi edukasi para pengunjung yang ingin mengetahui sejarah bangsa Indonesia, yang pada akhirnya diharapkan mampu meningkatkan nilai-nilai kebangsaan warga negara. Menurutnya, peran museum tidak lagi seperti dibayangkan banyak orang, sebagai sekadar tempat penyimpanan benda-benda antik, kuno, bersejarah, serta arsip-arsip tentang masa silam.

Lestari pun mengungkapkan museum yang berisi koleksi perjuangan bangsa Indonesia juga berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan kebangsaan, khususnya tentang wawasan nusantara dan pembangunan kembali karakter bangsa. "Dengan peran seperti itu museum memiliki peran strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," ujar Lestari.

Menurut Lestari, museum dapat memainkan peran ke arah peningkatan kehidupan bangsa dan negara yang lebih cerdas, dengan kepribadian dan karakter lebih tangguh. Sehingga dapat memiliki ketahanan nasional dan pandangan dunia komprehensif serta utuh tentang wawasan kebangsaan.

Lestari menjelaskan museum juga dapat dijadikan sumber pembelajaran yang dirancang untuk membantu peserta didik dalam memahami teori secara mendalam. Yaitu melalui pemanfaatan media audio visual berupa benda-benda peninggalan sejarah, arsip atau berbentuk tayangan audio visual tentang peristiwa-peristiwa sejarah seperti film dokumenter sejarah.

"Tantangan ke depan harus diupayakan museum-museum yang ada di Indonesia mampu menarik perhatian masyarakat dengan bebagai inovasi, sehingga fungsi museum yang mampu meningkatkan kepedulian terhadap budaya dan sejarah bangsa dapat dimaksimalkan," ungkapnya.

Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengatakan agar berhasil membentuk museum yang menarik, harus ada manajeman yang profesional dan investasi infrastruktur yang memadai terhadap museum.

"Pengelolaan museum dalam bentuk Badan Layanan Umum mungkin bisa mendorong pengelolaan museum yang lebih profesional," ujar Nadiem.

Gubernur Lemhanas Agus Widjojo pun berpendapat agar pengelolaan museum lebih berkelanjutan jangan hanya berharap pembiayaannya dari penjualan tiket semata. Menurutnya, kreativitas dalam pembuatan cendera mata dan buah tangan bisa menjadi sumber pembiayaan dalam pengelolaan museum.

"Selain pendanaan, tantangan terbesar dalam pengelolaan museum adalah menciptakan konten yang kreatif sehingga museum selalu menarik bagi masyarakat," ujar Agus.

Dalam kesempatan yang sama, Pendiri Yayasan Mitra Museum Jakarta Amir Sidharta menyoroti peran museum untuk memaknai rangkaian sejarah sebuah bangsa.

Amir menjelaskan pada peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda misalnya, dipahami secara sederhana sebagai menyuarakan persatuan dalam satu Tanah Air, satu bangsa dan satu bahasa sebaiknya ditinjau kembali. Hal itu sebagai upaya mengedepankan semangat antikolonialisme, yang didasarkan pada rasa hormat akan kekayaan budaya kita yaitu keberagaman.

"Semangat ini yang bisa dijalankan oleh museum-museum Indonesia di ambang abad ke 21," ujar Amir.

Amir menegaskan pada akhirnya kita kembali pada gagasan permuseuman yang bertujuan untuk menyingkap persamaan dan kerja sama budaya-budaya. Ketimbang superioritas nasionalistik/etnosentrik yang seringkali malah membentuk ekslusivitas yang sempit.

Amir menilai, museum lahir di dunia sebagai bagian dari perangkat kolonialisme dan imperialisme. Tetapi, bangsa Indonesia yang sudah susah payah memerdekakan diri sebaiknya tidak terperangkap dalam gaya kolonial baru dalam kemasan patriotisme.

"Kita boleh bangga atas keindahan batik kita misalnya, namun alangkah baiknya jika kita mengingatkan bahwa perkembangan batik kita, didukung perdagangan dan interaksi antar budaya internasional," ujarnya.

Menurut Amir, pada akhirnya kita kembali ke makna museum, yang akar katanya 'muse' adalah untuk memberikan inspirasi. Bukan meneruskan pembelokan fungsi untuk menjadi alat propaganda kepentingan golongan tertentu saja.

Sebagai informasi, acara diskusi yang dipandu Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI Luthfi Assyaukanie tersebut juga turut dihadiri oleh beberapa tokoh sebagai narasumber yaitu Anggota Komisi X DPR RI Putra Nababa, Gubernur Lemhanas Letjen (Purn) Agus Widjojo, Pendiri Yayasan Mitra Museum Jakarta Amir Sidharta, dan Yasasan Anak Indonesia Bersatu - Yayasan Mitra Museum Jakarta Nathania B. Zhong.

Selain itu, juga hadir Staf Khusus Wakil Ketua MPR RI Dr. Atang Irawan untuk memberikan pengantar perspektif ketatanegaraan dan sejumlah jurnalis, akademisi, serta praktisi dalam pengelolaan museum.

(akn/ega)