NasDem Minta Jokowi Ambil Sikap Kecam Karikatur Nabi Muhammad di Prancis

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 28 Okt 2020 06:42 WIB
Willy Aditya
Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi NasDem, Willy Aditya (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Pemerintah mengecam sikap Presiden Prancis Emmanuel Macron yang akan membiarkan penerbitan karikatur Nabi Muhammad SAW. Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi NasDem, Willy Aditya, meminta Presiden Jokowi bertindak dengan menelepon Macron.

"Sebagai kepala negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Pak Jokowi perlu mengambil sikap langsung. Pertama, bisa dengan menelepon langsung; atau kedua, berstatemen mengecam rencana tersebut," ujar Willy kepada wartawan, Selasa (27/10/2020).

Jika hal tersebut dilakukan Jokowi, kata Willy, itu menunjukan Indonesia tidak tinggal diam atas rencana Macron. Menurut Willy, Jokowi perlu mengingatkan Macron soal rencana penerbitan karikatur itu.

"Sikap pembiaran itu hanya akan membuat situasi di Perancis semakin tidak kondusif. Kaum muslim moderat yang awalnya antipati terhadap kelompok radikal di sana, bisa-bisa malah berbalik menyerang Macron akibat sikap gegabah itu," imbuh Willy.

Willy menyebut Macron sesat dalam berfikir. Macron dinilai salah langkah dalam menanggapi terbunuhnya salah satu guru bernama Samuel Paty usai menunjukan karikatur Nabi Muhammad SAW.

"Tapi apa yang dilakukan oleh Paty juga adalah sebuah provokasi, bukan kebebasan berekspresi. Membuat kartun apalagi karikatur Nabi Muhammad bukanlah kebebasan berekspresi melainkan provokasi. Oleh karena itu, tindakan itupun harus dikecam," jelas Willy.

Jika Macron tetap menerbitkan karikatur Nabi Muhammad, Willy memprediksi akan terjadi kekacauan besar.

"Kalau dia sampai membiarkan rencana penerbitan karikatur, itu sama saja dia ikut memprovokasi umat Islam di dunia. Itu juga berarti dia akan membuat negaranya berada dalam kekacauan," tutupnya.

Seperti diketahui, kecaman menghujani Prancis dan Presiden Emmanuel Macron setelah otoritas Prancis menegaskan hak mereka untuk mempublikasikan karikatur Nabi Muhammad. Sikap tersebut tetap disampaikan meskipun mereka mengetahui akan menyinggung umat Muslim.

Persoalan tersebut kembali mencuat setelah seorang guru di Prancis tewas dipenggal karena menunjukkan karikatur Nabi Muhammad dalam salah satu kelasnya saat membahas soal kebebasan berbicara dan berekspresi.

Komentar kontroversial Macron saat memimpin penghormatan untuk guru Prancis tersebut, menuai kecaman dan seruan boikot produk Prancis. Dalam pidatonya, Macron bersumpah bahwa Prancis 'tidak akan menghentikan kartun (karikatur-red)' dan menyebut sang guru dibunuh 'karena Islamis menginginkan masa depan kita'. Macron juga menyatakan perang terhadap 'separatisme Islam', yang diyakininya telah mengambil alih sejumlah komunitas Muslim di Prancis.

Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mengecam sikap Presiden Prancis Emmanuel Macron yang akan membiarkan penerbitan karikatur Nabi Muhammad SAW. Indonesia juga sudah bersurat dan memanggil Dubes Prancis untuk Indonesia, namun panggilan itu belum mendapat respons.

"Kemlu telah memanggil Duta Besar Prancis pada hari ini. Kedua, dalam pertemuan tersebut Kemlu menyampaikan kecaman terhadap pernyataan Presiden Prancis yang menghina agama Islam," kata Juru Bicar (Jubir) Kemlu Teuku Faizasyah kepada wartawan, Selasa (27/10).

(isa/zap)