Demo Tolak UU Cipta Kerja di Patung Kuda Jakpus, Massa Sempat Ricuh

Sachril Agustin Berutu - detikNews
Selasa, 27 Okt 2020 16:13 WIB
Massa demo tolak omnibus law di Patung Kuda sempat ricuh.
Massa demo tolak omnibus law di Patung Kuda sempat ricuh. (Sachril Agustin/detikcom)
Jakarta -

Sejumlah orang menggelar aksi unjuk rasa menolak omnibus law UU Cipta Kerja di sekitar Patung Kuda Arjuna Wiwaha, Jakarta Pusat (Jakpus). Massa aksi sempat ricuh.

Pantauan detikcom, Selasa (27/10/2020), pukul 14.22 WIB, massa dari Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) berunjuk rasa di dekat pintu masuk Monas, tepatnya di dekat Patung Kuda, untuk menolak UU Cipta Kerja. Dalam aksi ini, massa membawa bendera, spanduk, dan satu mobil komando.

Polisi melakukan pengamanan aksi ini. Lalu lintas di sekitar Patung Kuda pun lancar.

Orator bergantian menyampaikan orasi dari atas mobil komando. Namun, tak lama kemudian, terjadi kericuhan.

Massa aksi dan polisi terlibat dorong-dorongan. Tak berselang lama, massa dan polisi saling memukul dan menendang.

Belum diketahui alasan ataupun penyebab kericuhan ini. Beberapa personel polisi dan massa lainnya berusaha melerai.

Massa demo tolak omnibus law di Patung Kuda sempat ricuh.Massa demo tolak omnibus law di Patung Kuda sempat ricuh. (Sachril Agustin/detikcom)

Massa dan polisi juga saling berdebat. Namun keributan ini tak berlangsung lama setelah ditenangkan beberapa orang. Tidak terlihat ada yang diamankan dari keributan ini.

Ketua Umum LMND, yang juga korlap aksi, Muhammad Asrul, mengatakan keributan terjadi karena aparat menghalangi massa untuk menuju Istana Kepresidenan. Dia menjelaskan, massa ingin mendekat ke Istana Kepresidenan untuk berunjuk rasa.

"Kita rencana (demo), titik kumpul di Patung Kuda. Kita mau aksi di depan Istana. Mereka menghalangi, tidak membolehkan kami, massa aksi ini, menuju titik Istana. Alasannya, karena di Istana nggak lagi pengamanan menuju aksi tanggal 28 (Oktober)," kata Asrul.

"Makanya beberapa massa aksi kita mencoba membuka jalan, sedangkan kita sudah melewati jalur-jalur diplomasi, diskusi sama komandan pihak keamanan. Cuma mereka bersikukuh tetap nggak membolehkan menuju titik aksi kita di Istana. Makanya tadi, kami memaksa sedikit dan pihak kepolisian juga represif terhadap massa aksi. Karena tadi anggota kami dipukulin, dan mendapatkan tendangan," lanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2