Pengacara Adukan Penangkapan Pentolan KAMI ke Komnas HAM

Luqman Nurhadi Arunanta - detikNews
Selasa, 27 Okt 2020 12:21 WIB
Pengacara pentolan KAMI adukan penangkapan kliennya oleh Bareskrim Polri ke Komnas HAM
Pengacara pentolan KAMI mengadukan penangkapan kliennya oleh Bareskrim Polri ke Komnas HAM. (Luqman Nurhadi Arunanta/detikcom)
Jakarta -

Tim pengacara Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) hari ini menyambangi Komnas HAM. Kedatangan mereka bertujuan mengadukan penangkapan sejumlah pentolan KAMI oleh Polri.

"Pengaduan kami khususnya tentang penangkapan, cara-cara penangkapan, dan sebagainya kemudian penahanan sebagainya khususnya kami hubungkan dengan UU 39 Tahun 1999," kata Koordinator Tim Advokat KAMI Abdullah Alkatiri, di kantor Komnas HAM, Jalan Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (27/10/2020).

Abdulllah menyebut ada dugaan pelanggaran HAM dilakukan aparat kepolisian dalam penangkapan petinggi KAMI. Pengaduan ini mereka lakukan agar menjadi perhatian Komnas HAM.

"Ya otomatis kan yang menangkap kepolisian kan. Gus Nur juga demikian ditangkap tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Harusnya ada panggilan kesatu, kedua, ketiga dan sebagainya. Itu tidak ada, ditangkap di Malang, dibawa ke Jakarta konon kabarnya pakai kendaraan darat," ujar Abdullah.

"Semua itu kami ajukan ke sini supaya mendapat perhatian dari Komnas HAM," tambahnya.

Abdullah menyebut diterima pihak Komnas HAM dalam audiensinya. Mereka diminta melengkapi aduannya.

"Ya mereka akan tindaklanjuti kemudian kita diminta melengkapi," ucap Abdullah.

Untuk diketahui, Bareskrim Polri telah menetapkan 9 tersangka penghasutan terkait demo tolak omnibus law pada 8 Oktober lalu. Kesembilan tersangka memiliki peran masing-masing dalam memicu ricuhnya demo yang digelar serempak di sejumlah daerah itu.

Sembilan tersangka yang ditetapkan adalah Khairi Amri (KA), Syahganda Nainggolan (SN), Jumhur Hidayat (JH) dan Anton Permana (AP). Kemudian, Juliana (JG), Novita Zahara S (NZ), Wahyu Rasasi Putri (WRP), Kingkin Anida (KA), dan Deddy Wahyudi (DW).

Syahganda Nainggolan, Jumhur Hidayat, dan Anton Permana merupakan pentolan KAMI. Ketiganya ditangkap di Jakarta bersama Kingkin Anida, yang merupakan mantan caleg PKS. Sedangkan Deddy Wahyudi merupakan admin akun @podoradong.

"Ini 9 tersangka yang berkaitan dengan kegiatan penyebaran dengan pola hoax mengakibatkan anarkisme, vandalisme, sehingga membuat petugas luka kemudian barang-barang dinas rusak, gedung, fasilitas umum yang semuanya membuat kepentingan umum terganggu di sana," kata Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono dalam jumpa pers di Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis (15/10).

Argo juga sebelumnya menegaskan bila tidak ada yang salah dengan penangkapan para pentolan KAMI ini, termasuk penangkapan Gus Nur. Bilamana ada protes, Polri mempersilakan untuk diajukan melalui prosedur hukum yang ada.

"Semua sudah sesuai prosedur," ujarnya.

"Kalau ada yang tidak pas silakan diajukan ke praperadilan," imbuh Irjen Argo.

Kingkin Anida Bukan Anggota KAMI

Pada 12 November 2020, Kuasa hukum Kingkin Anida, Nurul Amalia dan Helmi Al Djufri memberikan pernyataan yang menegaskan bahwa kliennya bukan anggota Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). Menurut kuasa hukum, berkas perkara Kingkin Anida dipisah dengan para anggota KAMI.

(aud/aud)