Ketua PAN Cibir Lembaga Survei: Sering Meleset, Mau Ngaku Salah?

Rahel Narda Chaterine - detikNews
Selasa, 27 Okt 2020 10:45 WIB
Wasekjen PAN Saleh Partaonan Daulay (tengah).
Ketua DPP PAN Saleh Partaonan Daulay (tengah). (Faiq Hidayat/detikcom)
Jakarta -

Lembaga Survei Indikator Politik merilis elektabilitas partai politik. Hasil survei menyebut PAN mendapat penurunan elektabilitas dari 2 persen menjadi 1,1 persen sehingga berpotensi tak lolos parliamentary threshold (PT).

Ketua DPP PAN Saleh Partaonan Daulay tak ambil pusing atas hasil itu. Dia meyakini hasil survei itu tak menggambarkan kondisi yang sebenarnya.

"Dari dulu survei selalu begitu, hasilnya ternyata jauh dari kenyataan. Apakah surveinya bisa disalahkan? Atau maukah mereka mengakui kesalahannya? Ternyata tidak ada yang mau mengaku," kata Saleh kepada wartawan, Selasa (27/10/2020).

"Soal melesetnya prediksi lembaga survei sangat sering terjadi," sambungnya.

Plh Ketua Fraksi PAN DPR RI ini kemudian mengungkapkan hasil survei perolehan elektabilitas PAN di Pileg 2019. Ia menjelaskan banyak lembaga survei memprediksi elektabilitas PAN masuk parliamentary threshold hanya sekitar 2 persen. Namun ternyata PAN justru memperoleh suara sekitar 6,5-7 persen.

"Faktanya, setelah pileg, prediksi itu jauh meleset. Mereka juga yang mempublikasikan hasilnya. PAN justru memperoleh suara pada kisaran 6,5 sampai 7 persen. Bahkan pemilu sebelumnya, PAN memperoleh suara 7,59 persen," tegasnya.

Saleh mengatakan hasil survei tidak perlu terlalu ditanggapi. Sebab, ia menilai PAN sering mendapat prediksi yang salah.

"Karena itu, survei seperti ini tidak perlu terlalu ditanggapi. Dari pemilu ke pemilu, PAN selalu divonis tidak lolos ke Senayan. Alhamdulillah, hasilnya jauh dari prediksi tersebut," ujar Saleh.

Lebih lanjut, anggota Komisi IX DPR RI ini menilai hasil survei bisa merugikan partai yang divonis tidak lolos PT. Namun, ia menyayangkan belum ada sarana untuk mengajukan gugatan terkait hasil survei tersebut.

"Sebetulnya, survei seperti itu bisa merugikan partai-partai yang divonis tidak lolos ke Senayan. Andaikata ada sarana untuk mengajukan gugatan, boleh juga diajukan. Data-data hasil survei mereka sebelum pemilu kan masih tersimpan. Bahkan jejak digitalnya masih bisa ditelusuri. Hanya saja, sarana untuk mengajukan gugatan itu tidak tersedia," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, survei Indikator Politik merilis soal elektabilitas partai politik. Ada beberapa partai yang mengalami kenaikan dan penurunan.

Survei dilakukan pada 24-30 September 2020. Sebanyak 1.200 responden dipilih secara acak.

Metode survei dilakukan dengan wawancara via telepon dengan margin of error sekitar 2,9% dan tingkat kepercayaan 95%. Seluruh responden terdistribusi secara acak dan proporsional.

Berikut ini paparan perkembangan elektabilitas partai yang dilakukan Indikator Politik pada September jika dibandingkan dengan surveinya pada Juli:

PKB: 5,0% turun menjadi 4,1%.
Gerindra: 17,7% naik menjadi 21,1%
PDIP: 26,3% turun menjadi 25,2%
Golkar: 8,3% turun menjadi 6,7%
NasDem 4,5% turun menjadi 3,1%
PKS: 4,4% naik menjadi 5,9%
PPP: 1,7% turun menjadi 0,6%
PAN: 2% turun menjadi 1,1%
Demokrat: 5,7% naik menjadi 5,9%
PSI: 0,1% naik menjadi 0,3%
Perindo: 0,3% naik menjadi 1%
Garuda: 0,0% naik menjadi 0,1%
Berkarya: 0,1% naik menjadi 0,8%
Hanura: 0,5% turun menjadi 0,4%

Tonton video 'Survei Indikator: Indeks Demokrasi Indonesia Menurun':

[Gambas:Video 20detik]



(hel/tor)