Round-Up

Respons Ormas Dalam Negeri soal Pernyataan Presiden Macron

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 27 Okt 2020 07:58 WIB
FILE - In this Tuesday, Jan. 24, 2017 file photo, French presidential candidate and former French Economy Minister Emmanuel Macron speaks during a press conference at the Government House, in downtown Beirut, Lebanon. French President Emmanuel Macron is traveling to Lebanon on Thursday Aug. 6, 2020, to offer support for the country after the massive, deadly explosion in Beirut. Lebanon is a former French protectorate and the countries retain close political and economic ties.  (AP Photo/Bilal Hussein, File)
Presiden Prancis Emmanuel Macron (AP Photo/Bilal Hussein, File)
Jakarta -

Presiden Prancis Emmanuel Macron memunculkan kontroversi lewat pernyataannya membela sekularisme Prancis dan kritik terhadap Islam radikal. Hal ini menyusul pemenggalan seorang guru di Prancis gegara menunjukkan kartun Nabi Muhammad SAW.

Seorang guru dipenggal di Prancis pada Jumat (16/10) lalu. Macron kemudian tampil membela sang guru. Dia menyebut pemenggalan itu adalah ulah teroris. Macron mengatakan guru itu dibunuh karena ia 'mengajarkan kebebasan berekspresi'.

Sebelum peristiwa pemenggalan guru, Macron juga berbicara bahwa Islam adalah, "Agama yang dalam krisis di seluruh dunia hari ini." Dia akan berperang melawan Islamis radikal di Prancis. Pernyataan Macron dilansir France 24 dengan AFP.

Pernyataan Macron itu pun mendapat kecaman dari beberapa pihak. Hingga organisasi masyarakat di RI pun turut memberikan respons atas pernyataan Macron. Apa saja ormas yang turut memberikan respons. Berikut penjelasannya:

MUI minta Menlu panggil Dubes Prancis untuk Indonesia

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengkritik sikap Macron terhadap Islam. MUI bahkan meminta Menlu segera memanggil dubes Prancis di Indonesia untuk dimintai klarifikasi atas pernyataan Macron.

"MUI meminta kepada Menlu agar segera memanggil Dubes Prancis untuk Indonesia guna mendapatkan klarifikasi dan penjelasan komprehensif terkait sikap pernyataan Presiden Macron," kata Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI, Muhyiddin Junaidi, dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Senin (26/10/2020).

Muhyiddin mengkritik Macron karena, menurutnya, Macron telah mendukung Islamofobia secara tidak langsung. Muhyiddin menilai Macron telah menganggap umat Islam kurang belajar toleransi di Prancis.

"Presiden Macron kebanjiran kritik dari umat Islam dunia karena ia menganggap bahwa bahwa umat Islam perlu belajar toleransi saat berada di negara yang anti-intoleransi seperti Prancis. MUI menilai bahwa Macron secara tak langsung telah mendukung gerakan Islamphobia," tutur Muhyiddin.

Namun tidak jelas betul, pernyataan Macron yang mana yang diprotes Muhyiddin dan MUI. Saat detikcom meminta keterangan soal pernyataan Macron yang dikritik MUI, Muhyiddin belum menunjukkan pernyataan Macron yang dia nilai menuduh umat Islam sebagai sumber konflik, intoleran, Macron Islamofobia, hingga pernyataan memuat rasisme.

"Belum (belum ada berita mengenai pernyataan Macron yang dimaksud," kata Muhyiddin.

Selanjutnya
Halaman
1 2