Jokowi Dinilai Sudah Evaluasi Kinerja Menteri di Tengah Ramai Isu Reshuffle

Matius Alfons - detikNews
Minggu, 25 Okt 2020 05:06 WIB
Hendri Satrio
Pengamat politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio (Foto: Ari Saputrap)
Jakarta -

Persoalan reshuffle menteri kabinet Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin ramai diperbincangkan. Salah satu yang dibahas yakni relawan Jokowi menyentil kinerja menteri P. Pengamat politik menilai keputusan reshuffle seutuhnya berada pada Jokowi.

"Sebetulnya kode reshuffle itu disampaikan Presiden Jokowi sendiri saat mengkritik kinerja para menterinya untuk menegur kinerja para menterinya di publik gitu, kalau mau reshuffle sih nggak perlu nunggu Jokman sama Projo, mau reshuffle mah reshuffle aja," kata pengamat politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio (Hensat), saat dihubungi, Sabtu (24/10/2020).

Hensat menyebut kewenangan reshuffle menteri sepenuhnya berada pada Jokowi. Menurutnya meski sebagian pihak merasa kinerja menteri buruk tapi Jokowi merasa tidak, maka bisa saja reshuffle tidak dilakukan.

"Sekarang mah tinggal nunggu Pak Jokowi, tidak ada yang lebih berhak dari Pak Jokowi. Kalau misalnya ada yang merasa kinerja menterinya tidak ok tapi presidennya nyaman, kan nggak perlu reshuffle juga, semua tergantung presiden," ucapnya.

Hensat pun menyebut sebetulnya Jokowi sudah melakukan sejumlah evaluasi terhadap kabinetnya. Dia memastikan tidak ada posisi menteri yang aman saat ini.

"Evaluasi-evaluasi presiden juga menurut saya sudah dilaksankan, maka terserah presiden mau reshuffle, rombak total hanya beberapa pos menteri, atau hanya digeser karena tak sesuai posnya, atau mungkin ada yang sakit gitu, sehingga tidak maksimal kerjanya, bisa macem-macem, tapi balik itu semua, menteri nggak ada yang aman kondisinya," ujarnya.

Hensat lalu menyinggung dua hal yang jelas menjadi pertimbangan Jokowi melakukan reshuffle.

"Pertama adalah kinerja, yang kedua ya kenyamanan presiden pada si menteri itu. Kalau tak nyaman lagi kemungkinan bakal di-reshuffle," imbuhnya.

Sebelumnya, Ketua Umum JokMan, Immanuel Ebenezer, menyebut pihaknya sedang mempersiapkan rilis terkait nama-nama menteri yang layak diganti karena kinerjanya dinilai tidak memuaskan. Immanuel menyebut ada menteri yang asyik berbisnis dan berpolitik untuk Pilpres 2024.

"Inisial depannya P, yang kerjanya berbisnis dan berpolitik terus," kata Immanuel ketika dihubungi detikcom, Jumat (23/10).

(maa/man)