Pentingnya Edukasi Kehidupan Keluarga dan Kesiapan Sebelum Menikah

Nurcholis Maarif - detikNews
Jumat, 23 Okt 2020 18:07 WIB
Wedding in the mountains Mangup in Crimea
Foto: Thinkstock
Jakarta -

Pernikahan dini bukan hal yang baru di Indonesia, bahkan kasusnya semakin meningkat selama pandemi. Kabar terbaru yang viral adalah seorang pelajar SMK berusia 18 tahun di Lombok Barat (NTB) berani menikahi 2 orang gadis dalam jarak berdekatan.

Kasus tersebut menjadi unik karena ada dua orang gadis yang dinikahi hanya selang 2 minggu. Gadis pertama yang dinikahi baru saja lulus SMP dan gadis kedua masih bersekolah di bangku SMA. Selain itu, belum lama juga banyak diberitakan bahwa ada sepasang pelajar SMP yang ingin menikah hanya karena si anak gadis takut tidur sendirian.

Pengembang Materi Pendidikan Kependudukan dari Direktorat Kerjasama Pendidikan Kependudukan BKKBN, Ade Isyanah mengatakan seringkali kita dapati curhatan dan gurauan anak muda di media sosial, yang ingin cepat menikah karena ingin lepas dari tugas-tugas sekolah dan kuliah. Menurutnya, hal itu memang realita yang terjadi, sebagian remaja mengira menikah merupakan solusi dari permasalahan mereka.

"Padahal menikah di usia sangat muda berpotensi menimbulkan masalah baru dan memicu meningkatnya kasus perceraian, karena ketidaksiapan menjalani kehidupan pernikahan dan rumah tangga," ujar Ade dalam keterangan tertulis, Jumat (22/10/2020).

Ia mengutip data BPS dan UNICEF yang melaporkan pada tahun 2018 terdapat 1 dari 9 anak perempuan berusia 20-24 tahun menikah pada usia kurang dari 18 tahun dan jumlahnya mencapai 1,2 juta. Hal ini menempatkan Indonesia menjadi salah satu dari 10 negara dengan angka absolut perkawinan anak tertinggi di dunia.


"Miris memang, anak remaja yang seharusnya fokus belajar dan mengejar cita-cita, justru malah memutuskan untuk menikah di usia yang sangat muda. Orang tua pun pasrah dan akhirnya menyetujui anaknya menikah di bawah umur karena tuntutan keadaan seperti hamil di luar nikah atau anaknya yang nekat ingin cepat menikah, padahal belum cukup usia dan belum punya penghasilan," ujar Ade.

Menurut Ade, banyak remaja yang tidak menyadari konsekuensi dan risiko yang akan mereka hadapi ketika menikah di usia belasan tahun. Remaja yang menikah di bawah umur 18 tahun berisiko kehilangan kesempatan untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Anak perempuan lebih rentan mengalami dampak yang lebih berat. Perempuan yang hamil belum cukup umur, lanjutnya, berisiko mengalami masalah kesehatan saat hamil dan meningkatkan risiko kematian saat melahirkan.

"Bayi yang dilahirkan juga berisiko mengalami stunting bahkan kematian. Tidak hanya masalah fisik saja, mereka juga rentan mengalami masalah kesehatan mental seperti mudah stres dan depresi, karena belum siap menjalankan peran sebagai istri dan ibu muda dengan berbagai tantangan dan problema," ujar Ade.

"Belum lagi kesulitan ekonomi dan kasus KDRT yang cenderung menimpa pasangan muda yang semakin memperparah keadaan," imbuhnya.

Ade menjelaskan selain faktor budaya dan ekonomi, rendahnya pendidikan dan kurangnya pengetahuan menjadi salah satu penyebab tingginya angka perkawinan anak. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2019 melakukan Survei Kinerja dan Akuntabilitas Program Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga (SKAP KKBPK) dengan mewawancarai 41.582 remaja usia 10-24 tahun di 34 provinsi.

Survei tersebut menunjukkan bahwa hanya 48,5% responden remaja belum kawin usia 10-24 tahun yang mengetahui akibat dari menikah muda. Data SKAP KKBPK 2019 juga menunjukkan rendahnya pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi.

Secara nasional indeks komposit pengetahuan remaja (10-24 tahun) tentang kesehatan reproduksi hanya 48,5 (skala 0-100). Hal menarik lainnya adalah sebanyak 27% responden remaja tidak mengetahui umur ideal perempuan melahirkan anak pertama dan hanya 13% responden yang mengetahui kapan masa subur terjadi.

"Data-data tersebut di atas menunjukkan bahwa salah satu pekerjaan besar kita bersama adalah meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku remaja tentang kesehatan reproduksi dan risiko menikah di bawah umur," ujarnya.

"Idealnya generasi muda mempersiapkan kehidupan berkeluarga sejak awal karena menikah dan berumah tangga butuh ilmu dan persiapan yang matang. Bukan sekadar kesiapan finansial, tapi harus siap fisik, mental, dan dibekali pengetahuan dan life skill yang cukup agar ketika menikah nanti siap menjalankan peran dan tugas sebagai suami, istri, orang tua dan anggota masyarakat yang baik," jelasnya

Lebih lanjut Ade mengutip Darling & Cassidy (2014) yang menyebut banyak masalah yang dihadapi keluarga disebabkan kurangnya pengetahuan dan keterampilan terkait pembangunan manusia, parenting, komunikasi, menetapkan tujuan, membuat keputusan dan pengelolaan sumber daya (waktu, keuangan dan energi).

Sejalan dengan Darling dan Cassidy, Higginbotham (2014) menyatakan hubungan pernikahan menjadi lebih kuat dan sehat ketika didukung oleh pendidikan yang berfokus pada pengembangan skill seperti komunikasi, manajemen konflik, parenting, dan literasi keuangan.

Menurut Ade, Family Life Education (FLE) dapat diterapkan secara intensif melalui pendidikan/kursus pra nikah bagi calon pengantin. Namun, akan lebih bagus lagi jika dapat diberikan sejak di bangku sekolah sampai perguruan tinggi dengan berbagai materi yang disesuaikan dengan umur dan jenjang pendidikan.

"Lalu bagaimana cara mengimplementasikan FLE ini bagi remaja, tapi tidak menambah beban mata pelajaran baru di sekolah? Kabar baiknya, saat ini BKKBN terus mengembangkan program Pendidikan Kependudukan bagi para pelajar maupun masyarakat yang dilakukan melalui pendidikan jalur formal, informal dan nonformal baik secara offline dan online," ujar Ade.

Lebih lanjut Ade mengungkapkan penerapan pendidikan kependudukan di sekolah yaitu dengan mengintegrasikan materi pendidikan kependudukan (termasuk materi FLE) dengan berbagai mata pelajaran di sekolah.

Selain itu, program Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) yang dibentuk di sekolah merupakan sarana yang efektif untuk membantu para siswa mengenal dan mempelajari FLE di luar jam pelajaran. Sebagai contoh, siswa SMP dan SMA diajarkan bagaimana menjaga kebersihan dan kesehatan organ reproduksi, cara berkomunikasi yang efektif dengan orang tua dan anggota keluarga lainnya, cara meningkatkan kepercayaan diri, cara menghadapi KDRT dan bagaimana mengatasinya, cara mengelola keuangan, dan sebagainya.

"Bekal agama juga sangat penting bagi para remaja, agar mereka memiliki akhlak dan perilaku yang baik serta dapat terhindar dari pergaulan bebas dan narkoba," ujar Ade,

"Dengan program pendidikan kependudukan yang mencakup materi pendidikan kehidupan keluarga (Family Life Education) diharapkan dapat menjadi salah satu solusi dan upaya untuk mencegah dan meminimalisir kasus pernikahan anak. Juga mempersiapkan generasi muda agar siap memasuki jenjang pernikahan dan meningkatkan ketahanan keluarga, karena bangsa yang kuat dimulai dari keluarga yang kuat," pungkasnya.

(prf/ega)