Bongkar Tiang Monorel Jakarta Dinilai Tak Mudah, Ada Polemik Utang Piutang

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Jumat, 23 Okt 2020 06:23 WIB
Mangkraknya proyek monorel masih menyisakan tiang pancang di Jalan Rasuna Said, Jakarta, Rabu (25/10/2017). Nasib penggunaan tiang bekas monorel diserahkan kepada Pemprov DKI yang saat ini dipimpin Anies Baswedan.
Foto: Tiang monorel di Jakarta (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta -

Tiang konstruksi proyek monorel yang berada di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, mangkrak dan dinilai sejumlah kalangan lebih baik dibongkar. Pembongkaran tiang monorel itu dinilai tak mudah, sebab ada polemik utang piutang.

"Sebelum bongkar mereka tahu enggak masalahnya? Itu ada persoalan utang piutang itu. Utang piutang itu antara PT Adhi Karya dengan PT Jakarta Monorail kalau enggak salah dulu. Katanya dulu DKI enggak terlibat, itu tiang harganya Rp 193 miliar hampir Rp 200 miliar," kata pengamat tata kota Universitas Trisakti, Yayat Supriyatna saat dihubungi, Kamis (22/10/2020).

Tiang konstruksi monorel yang mangkrak menurut Yayat dimiliki PT Adhi Karya secara kekuatan hukum. Pembangunan tiang monorel, kata Yayat, dipercepat saat Sutiyoso menjabat Gubernur DKI Jakarta.

Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti  -- Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Yayat Supriatna dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumay (22/4/2016)Foto: Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna dalam sebuah diskusi di Jakarta (Ari Saputra/detikcom)

"Itu yang punya Adhi Karya sudah punya kekuatan hukum hak atas tiang itu ada di PT Adhi Karya, dan itu menjadi piutang PT Adhi Karya kepada katanya ya PT Jakarta Monorail, katanya waktu itu," ucap Yayat.

"Karena dulu waktu zaman Pak Sutiyoso ingin cepat-cepat bangun monorel di Jakarta. Nah dipercepat lah pembangunan tiang-tiang itu, padahal persoalan keuangannya, pembiayaannya, belum jelas, karena waktu itu pemerintah daerah tidak boleh ngutang ke luar negeri, sumber pembiayaan itu," sambungnya.

Model pembangunan monorel dan MRT yang saat ini ada di Jakarta menurut Yayat berbeda. Ketika Jakarta dipimpin Fauzi Bowo atau Foke, pembangunan monorel berhenti dan meninggalkan tiang yang mangkrak.

"Kalau sekarang kan model MRT langsung dari Jepang bisa, ada subsidi, ada bantuan dari pemerintah pusat. Nah pada waktu itu monorel enggak bisa tapi langsung dibangun, dibangun sama PT Adhia Karya, tahu-tahu berhenti di zaman Pak Foke, dan akhirnya tiang-tiang itu jadilah tiang-tiang kegagalan lah," ucap Yayat.

Tiang konstruksi monorel, kata Yayat, tak bisa asal main bongkar. Bila dibongkar pun, menurutnya akan memakan biaya lagi.

"Pertanyaannya kalau sudah ditanam, sudah keluar duit, masa main bongkar saja, mana bisa. Itukan ada perjanjian antarpihak di dalamnya, itu PT Adhi Karya sudah terbuka, dia perusahaan publik, dia BUMN, dia sudah tanam uang di dalamnya, nah yang bongkar berani bayar utangnya enggak," ujarnya.

Simak video 'Kata Warga DKI Soal Tiang-tiang Monorel yang Terbengkalai':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2