Di Vatikan, JK Usul Ahli Medis Penemu Obat Corona Diberi Penghargaan

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 22 Okt 2020 20:38 WIB
Jusuf Kalla dan para Dewan Juri saat memberikan usulan kriteria pemenang Zayed Award for Human Fraternity. Pertemuan digelar di Roma, Italia, Kamis (22/10) (dok. Istimewa)
Jusuf Kalla dan para Dewan Juri saat memberikan usulan kriteria pemenang Zayed Award for Human Fraternity. (dok. Istimewa)
Vatikan -

Wakil Presiden RI ke-10 dan 12 Jusuf Kalla (JK) mengusulkan para ahli medis yang berhasil menemukan obat yang dapat menghentikan pandemi COVID-19 diberi penghargaan. Dia menilai sosok tersebut telah berjasa dalam hal kemanusiaan dan berdampak internasional.

Hal tersebut diutarakan JK saat memberikan usulan kriteria kepada para Dewan Juri Zayed Award for Human Fraternity di Roma, Italia, Kamis (22/10/2020) pagi waktu setempat. Seseorang yang menerima penghargaan haruslah menunjukkan kesuksesannya yang berdampak internasional.

"Jadi penerima penghargaan haruslah menunjukkan kesuksesannya dalam hal persaudaraan yang membawa berkah atau manfaat ke aspek kehidupan lainnya. Dan, prestasinya itu harus berdampak internasional," tegas JK dalam keterangan tertulis yang diterima.

Dia memberi contoh, seorang ahli uang menemukan cara atau obat menghentikan COVID-19 punya jasa dalam kemanusiaan dan dampaknya dirasakan negara-negara di dunia.

Dalam pertemuan tersebut, usulan JK diterima dengan baik oleh para juri. Sebagai informasi, pertemuan tersebut digelar menggunakan bahasa Prancis, Arab, dan Inggris.

Jusuf Kalla dan para Dewan Juri saat memberikan usulan kriteria pemenang Zayed Award for Human Fraternity. Pertemuan digelar di Roma, Italia, Kamis (22/10) (dok. Istimewa) Pertemuan digelar di Roma, Italia, Kamis (22/10). (dok. Istimewa)

Para juri diingatkan agar tidak berbicara mengenai dirinya dan misinya dalam proses penyeleksian. Aturan ini diterapkan untuk menjaga independensi tim juri.

"Biarlah komite penghargaan yang bicara. Juri itu ibarat hakim, tak boleh memberi komentar," ujar JK.

Panel juri juga menyetujui bahwa dimensi hak asasi manusia pun harus menjadi dasar penilaian dan pengambilan keputusan tentang siapa pemenang penghargaan tersebut.

Diketahui, Zayed Award for Human Fraternity dicetuskan dari hasil kesepakatan antara Paus Fransiskus dan Imam Besar Al Azhar, Dr Ahmed At-Tayyeb, yang telah menandatangani dokumen bersejarah, Deklarasi Abu Dhabi. Pertemuan Persaudaraan Manusia di Uni Emirat Arab itu terjadi pada awal Februari 2019.

Deklarasi yang disebut 'Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Berdampingan' itu berupaya mendorong untuk hubungan yang lebih kuat antar-umat manusia. Selain itu juga mempromosikan kepada hidup berdampingan antara umat beragama untuk melawan ekstremisme dan dampak negatifnya.

Selain Jusuf Kalla, dewan juri lainnya adalah Catherine Samba Panza, Former President Central of Arfican Republic; Adama Dieng, Former United Nations Under Secretary General and Social Adviser of The Secretary General on The Prevention Genocide; Cardinal Dominique Mamberti, Supreme Tribunal of the Apolistic Signature; dan Michaelle Jean, 27th Governor General, Commander in Chief of Canada. Acara dipimpin Secretary General of the Higher Committee of Human Fraternity, Mohamed Mahmoud Abdulsalam.

(jbr/dhn)