Lewat Podcast, Bamsoet Cerita Orang di Balik Lahirnya UU Cipta Kerja

Reyhan Diandri - detikNews
Kamis, 22 Okt 2020 20:24 WIB
Bambang Soesatyo
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengungkapkan berbagai proses di balik layar kelahiran Undang-Undang Cipta Kerja (UU Cipta Kerja), hingga jumlah PP dan Perpres sebagai turunan pelaksanaan dari undang-undang tersebut.

Menurutnya, tak banyak orang tahu bahwa selain politisi di Parlemen maupun kalangan pemerintahan, ada sekelompok orang yang memiliki kemampuan akademik tinggi turut membidani kelahiran UU Cipta Kerja.

Salah satunya adalah Guru Besar Universitas Indonesia Ahli Hukum Tata Negara Prof. Satya Arinanto. Seorang Staf Khusus tiga periode Wakil Presiden Indonesia yaitu Boediono, Jusuf Kalla, dan kini KH. Ma'ruf Amin.

"Tugas Staf Khusus tak terlihat publik. Karena memang mereka fungsinya ke dalam (internal), bukan ke luar (publik). Merekalah para 'pembisik' yang turut punya pengaruh besar dalam proses pengambilan arah kebijakan nasional. Sosok Prof. Satya Arinanto sangat spesial. Ia dipercaya menjadi Staf Khusus oleh tiga wakil presiden berbeda, Boediono, Jusuf Kalla, dan KH Ma'ruf Amin. Pasti ada sesuatu yang bernilai dalam dirinya," ujar Bamsoet, dalam keterangannya, Kamis (22/10/20).

Hal itu ia sampaikan dalam acara Podcast Ngobras sampai Ngompol (Ngobrol Asyik sampai Ngomong Politik) bersama Prof. Satya Arinanto di Podcast kanal YouTube Bamsoet Channel, di Jakarta, pada hari ini.

Bamsoet menjelaskan menurut Prof. Satya Arinanto, Omnibus Law sudah lahir di periode akhir kepemimpinan Presiden Jokowi - Wakil Presiden Jusuf Kalla. Saat itu, Prof. Satya Arinanto dimintai pendapat oleh Jusuf Kalla tentang Omnibus Law. Pembahasan teknis kemudian dilakukan bersama Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil.

"Barulah di periode kedua kepemimpinannya, Presiden Joko Widodo memberlakukan Omnibus Law untuk memperlancar kelahiran UU Cipta Kerja. Tujuannya, tak lain untuk mempermudah perizinan usaha, termasuk untuk kalangan koperasi dan UMKM. Sehingga bisa membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi rakyat," jelas Bamsoet.

Bamsoet menjelaskan sebagai orang yang terlibat sejak awal kelahiran UU Cipta Kerja, Prof. Satya Arinanto memastikan hak pekerja dan buruh tak ada yang dikurangi. Tidak ada eksploitasi terhadap waktu kerja, penghilangan cuti hamil, maupun pengambilalihan secara paksa terhadap hak tanah rakyat.

"Keberadaan sebuah undang-undang, termasuk UU Cipta Kerja, adalah untuk kemaslahatan rakyat. Bukan demi segelintir orang atau kelompok kepentingan. Tak mungkin Presiden Joko Widodo melakukan sesuatu yang mencelakakan rakyat," jelas Bamsoet.


"Menurut penjelasan Prof. Satya Arinanto, gagasan Staf Khusus sudah ada sejak pemerintahan Presiden KH. Abdurrahman Wahid. Baru terealisasi disaat Ibu Megawati Soekarnoputri menjadi presiden. Kemudian disempurnakan tugas dan fungsinya saat pemerintahan Presiden SBY. Prof. Satya Arinanto, yang saat itu aktif dalam lembaga kajian yang dipimpin Prof. Hermawan Sulistyo, turut aktif memberikan gagasan keberadaan Staf Khusus di berbagai tulisan yang dibuatnya di berbagai jurnal," ungkap Bamsoet.Bamsoet juga mencari tahu lebih jauh proses kelahiran Staf Khusus dalam sistem pemerintahan di Indonesia. Tak disangka olehnya, ternyata Prof. Satya Arinanto termasuk salah satu orang yang membidaninya karena terinspirasi keberadaan West Wing dalam sistem kepresidenan di Amerika Serikat.

Bamsoet menambahkan Prof. Satya Arinanto juga pernah diminta konsulan politik Deny JA yang saat itu dekat dengan Presiden SBY, untuk membuat kajian lebih dalam tentang Staf Khusus. Hingga akhirnya ia dipercaya Wakil Presiden Boediono menjadi Staf Khusus. Selesai pemerintahan Presiden SBY - Wakil Presiden Boediono, Prof. Satya Arinanto pun bersiap berkemas. Namun ternyata Wakil Presiden terpilih Jusuf Kalla, tetap mempercayakan dirinya sebagai Staf Khusus.

"Hingga kini posisi Wakil Presiden dipegang KH Ma'ruf Amin, Prof. Satya Arinanto tetap dipercaya menjadi Staf Khusus. Saya mendorong, kelak jika tak lagi berada dalam pemerintahan, Prof. Satya Arinanto harus menulis buku berisi berbagai pengalamannya membantu tiga wakil presiden. Sehingga para generasi bangsa bisa mendapatkan banyak pelajaran penting. Sebagaimana kata pepatah, pengalaman adalah guru yang paling berharga. Apalagi jika pengalaman itu datangnya dari pusat jantung kekuasaan, dari posisi Nol Kilometer (0 KM)," pungkas Bamsoet.

(mul/ega)